Tuesday, September 6, 2016

Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Prabu Siliwangi as adalah Nabi Allah swt yang diutus ke Benua Sundaland untuk menyampaikan kebenaran dan mengajarkan Islam pada beberapa wilayah di Benua Sundaland. Ia adalah sosok teguh yang dirindukan kembali hadir pada zaman ini untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di Benua Sundaland yang kini telah hancur berkeping-keping menjadi wilayah kepulauan yang bernama Indonesia.

            Sesungguhnya, dia tidak akan pernah kembali lagi. Prabu Siliwangi as telah ngahiyang, ‘bersatu dengan Allah swt’. Yang akan kembali adalah semangatnya, budi pekertinya, dan ajaran-ajarannya. Sosok dan ajaran Prabu Siliwangi as hanya akan menitis pada orang-orang yang baik hatinya, bukan yang kasar dan gemar berbohong.

            Sampai hari ini sosok Prabu Siliwangi masih menjadi misteri. Terdapat dua golongan besar dalam meyakini sosok Prabu Siliwangi, yaitu pertama, golongan yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi pernah hidup secara nyata. Kedua, golongan yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi hanya tokoh sastra hasil karya para penyair dan juru pantun. Terjadinya dua golongan ini, baik akademisi, ahli, maupun masyarakat, disebabkan oleh sumber-sumber sejarah yang memiliki banyak perbedaan dan bertolak belakang. Di samping itu, kesemrawutan kisah Prabu Siliwangi disebabkan adanya kepentingan politik dan ekonomi dalam menguasai wilayah Nusantara serta adanya keangkuhan dalam otoritas keilmuan. Kesengajaan merancukan sejarah karena kepentingan politik dan ekonomi jelas sangat merusakkan segalanya karena menyisipkan kerakusan atas harta, benda, dan sumber daya alam. Demikian pula keangkuhan otoritas keilmuan membuat ilmu pengetahuan mati dan membuat kehidupan masyarakat kehilangan arah karena tidak jelas pijakannya dan tidak jelas pula arah yang hendak dituju.

            Banyak naskah yang diberangus dan dibuang. Banyak pula naskah asli yang diterjemahkan secara salah dan hanya menyandarkan pada persepsi orang per orang. Di samping itu, banyak pula syair dan pantun yang diciptakan hanya untuk memperkuat pendapat-pendapat yang keliru.

            Satu-satunya naskah yang terjamin keasliannya dan tidak akan pernah berubah di dunia ini hanyalah Al Quran.  Oleh sebab itu, saya mencoba menggunakan Al Quran untuk memahami siapa sesungguhnya Prabu Siliwangi. Setelah menelaah Al Quran, saya cocokan beberapa kabar dan naskah mengenai Prabu Siliwangi dengan Al Quran serta mengenyahkan kalimat-kalimat yang bertolak belakang dengan Al Quran di samping meminggirkan kata-kata yang bertolak belakang dengan sosok Prabu Siliwangi as dalam pandangan urang Sunda.


Prabu Siliwangi as Bukan Hindu dan Bukan Budha

Banyak ahli sejarah yang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi as beragama Hindu. Sebagian lagi mengatakan beragama Budha Tantra. Para ahli sejarah yang kebanyakan berasal dari Belanda dan Inggris itu mengatakan bahwa Prabu Siliwangi as beragama Hindu dan Budha Tantra disebabkan melihat ajaran-ajaran Prabu Siliwangi mengenai sistem kepercayaan dalam agama Sunda lama. Di samping itu, ada patung yang diklaim sebagai sosok Prabu Siliwangi yang mirip dengan Dewa Wisnu.

            Mereka mengatakan hal itu disebabkan dalam pemahaman mereka Islam itu berasal dari Arab,  hanya ajaran Muhammad saw, dan ajarannya harus menggunakan bahasa Arab. Sementara itu, ajaran Prabu Siliwangi as menggunakan bahasa Sunda lama yang dekat sekali dengan bahasa Jawa. Itulah kesalahan mereka yang pertama.

            Kesalahan mereka yang kedua adalah menganggap bahwa salah satu dari arca-arca atau patung-patung di Jawa Barat adalah gambaran dari sosok Prabu Siliwangi as. Sosok itu mirip Dewa Wisnu. Sesungguhnya, saya melihat itu adalah sebuah kesalahan karena sama sekali sosok itu bukan merupakan sosok orang Sunda. Patung yang diklaim sebagai Prabu Siliwangi as itu bukanlah sosok yang berasal dari wilayah Sunda dan itu mencirikan bukanlah Prabu Siliwangi as. Arca itu memiliki mahkota yang agung, di belakang kepalanya ada tanda halo (bulatan yang biasa ada dalam gambar orang-orang bijak), memakai gelang perhiasan pada kedua tangan dan kakinya, tidak menggunakan baju, serta tidak menggunakan celana panjang dan hanya menggunakan balutan kain mirip celana pendek yang menutupi kemaluan dan bokong. Di samping itu, arca itu tidak menggunakan alas kaki. Pakaian itu sama sekali tidak mungkin digunakan seorang raja di wilayah Sunda yang beriklim sejuk, bahkan dingin sekali pada beberapa tempat. Pakaian Raja Sunda yang pantas adalah menggunakan baju yang cukup tebal dan celana panjang yang juga tebal untuk mengatasi iklim yang sejuk, bahkan dingin. Tidak mungkin tanpa baju dan celana hanya berupa balutan kain berbentuk celana pendek mirip cawat besar. Di samping itu, harus menggunakan alas kaki.

TIDAK MUNGKIN INI PRABU SILIWANGI. Sumber foto: tatangmanguny.wordpress.com
            Kedua kesalahan para ahli sejarah itu sudah bisa mengugurkan bahwa Prabu Siliwangi as adalah beragama Hindu atau Budha Tantra. Di samping itu, ada alasan lain yang menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi as tidak beragama Hindu dan tidak pula Budha, yaitu tidak ada seorang atau sekeluarga Sunda pun yang menyimpan kitab Hindu atau Budha sebagai kitab yang pernah dijadikan pedoman hidup. Tak tampak jejak Hindu dan Budha di masyarakat Sunda, baik dalam bertutur bahasa, maupun dalam berperilaku. Bahkan, di kalangan para penganut Hindu dan Budha saat ini sama sekali tidak terdengar mengagungkan atau memuliakan Prabu Siliwangi as. Padahal, Prabu Siliwangi as adalah figur agung yang ajarannya pun digunakan secara nasional di Indonesia ini, yaitu silih asah, silih asih, silih asuh. Logikanya, para penganut Hindu dan Budha harus selalu memuliakan Prabu Siliwangi as, tetapi kenyataannya sama sekali tidak. Prabu Siliwangi as yang terkenal sedunia itu sama sekali berada di luar perhatian para pemeluk Hindu dan Budha. Justru orang-orang Islam yang bersuku Sunda-lah yang selalu menjadikan Prabu Siliwangi as sebagai anutan dan tidak pernah dilupakan, bahkan selalu diagungkan dan dimuliakan hingga kini selama berabad-abad. Hal itu menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi adalah berada dalam kecintaan kaum muslimin dan bukan berada di lingkaran para penganut Hindu dan Budha. Itu pun sekaligus mengisyaratkan bahwa Prabu Siliwangi as bukan penganut Hindu dan atau Budha Tantra.

           
Sosok Protagonis

Para Nabi yang tercatat dalam Al Quran selalu dikisahkan sebagai sosok-sosok protagonis, penuh kebaikan, penuh keluhuran, dan penuh kemuliaan. Kalaupun dibuat kisah mengenai para nabi dalam sosok antagonis yang penuh keburukan, dendam, kemarahan, dan menguak sisi buruknya, kisah-kisah itu tidak akan dipercaya oleh masyarakat dan selalu diragukan meskipun kisah itu tetap ada.

            Beberapa film layar lebar yang dibuat oleh kaum Yahudi mencoba mengangkat sisi-sisi buruk para Nabi. Lumayan banyak film-film serupa itu dan saya pernah menontonnya beberapa. Ada nabi yang gemar mabuk, ada nabi yang menipu nabi lainnya. Ada nabi yang rebutan cewek, ada nabi yang mengejar kekuasaan, dan rupa-rupa keantagonisan lainnya. Akan tetapi, kisah itu hanya melayang sebagai kisah yang tidak pernah dipercaya. Kisah para nabi selalu berada dalam posisi protagonis.

            Demikian pula dengan Prabu Siliwangi as yang selalu protagonis. Meskipun dibuat kisah yang antagonis, kisah itu selalu diragukan dan tidak pernah dipercaya karena di samping semrawut, juga merusakkan hubungan baik di dalam keluarga kerajaan Sunda. Kisah-kisah antagonis itu hanya dibuat untuk membuat rakyat Sunda patuh pada kolonialisme Belanda dan patuh pada kekuasaan pribumi yang tidak menentang Belanda. Di samping itu, kisah itu dibuat untuk menghilangkan rasa hormat rakyat Sunda yang beragama Islam kepada Prabu Siliwangi as. Misalnya, kisah yang antagonis dalam pandangan Islam. Prabu Siliwangi as sempat masuk Islam, lalu murtad dan kembali lagi menjadi Hindu atau Budha. Oleh sebab itu, ia dikejar oleh anaknya, Raden Kian Santang Sang Penyebar Islam, untuk diperangi. Prabu Siliwangi as pun kabur dan menghilang ke Hutan Sancang. Dalam versi lain, Prabu Siliwangi as kabur bukan karena dikejar Kian Santang, melainkan dikejar “suara adzan”. Kisah itu tetap ada sampai hari ini, tetapi tidak dihiraukan karena meragukan dan sangat sulit dipercaya serta bertentangan dengan keluhuran sosok Prabu Siliwangi as yang selalu protagonis.

            Masyarakat Sunda yang jelas beragama Islam tetap mengagungkan Prabu Siliwangi as. Masyarakat tetap menghormatinya dan tidak pernah terpengaruh oleh kisah-kisah Sang Prabu as yang antagonis dalam pandangan Islam.

            Bahkan, peneliti dari seluruh dunia membuat kesimpulan yang sangat mengejutkan bahwa sosok Prabu Siliwangi as ini merupakan sosok yang tidak memiliki noda cela sepanjang hidupnya. Hal ini ada dalam kesimpulan Proceedings: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi yang disusun oleh V. Sukanda Tesier dan  Hasan Muarif Ambary yang diterbitkan oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1991. Di dalam prosiding ini terkumpul berbagai makalah peneliti dari seluruh dunia yang tertarik pada sosok Prabu Siliwangi as. Makalah-makalah itu ditulis dengan bermacam-macam bahasa, yaitu: bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Belanda, bahasa Jerman, dan lainnya.

            Begini kesimpulan mereka.

1. Prabu Silihwangi adalah seorang hero nasional bersifat universil (hero budaya, hero agama, hero historiografi, dan hero sastra dari abad silam sampai dewasa ini).

2. Sebagai seorang Dewa Raja, Silihwangi adalah

     - Seorang kepala agama yang sempurna

     - Seorang kepala negara yang sempurna

     - Seorang manusia yang sempurna (Insan Kamil)

3. Berkat sifat tersebut, Silihwangi menjadi tokoh ideal dalam suatu kontinuitas budaya, daerah, dan agama yang unik

4. Dengan kemasyhurannya yang tersebar luas, kebesaran pribadinya dan keluarbiasaannya, Silihwangi adalah tokoh hero kharismatik yang patut diteladani (angidung palupi)

5. Toleransi beragama, kemenangan, pemerintahan yang diayomi secara sempurna, keadilan, perlindungan serta pengayoman rakyat menonjolkan ciri khas Prabu Silihwangi dalam masa pemerintahannya yang masih utuh dikenang sampai masa kini.

6. Walaupun nama Silihwangi tidak dipelihara dalam bukti sejarah atau belum ditemukan, julukannyalah yang menjadikan Silihwangi termasyhur.


Di Seluruh Dunia Ada Nabi

Entah kenapa dunia, baik muslim maupun nonmuslim selalu menganggap bahwa nabi itu harus berasal dari Arab atau Timur Tengah. Entah siapa yang mula-mula ngajarin tidak benar seperti itu.

            Saha sih jalmana nu ngamimitian teu baleg model kitu?

            Entah apa pula maksud mereka mengajarkan hal seperti itu.

            Apakah ada kepentingan politik?

            Apakah ada kepentingan ekonomi?

            Apakah disebabkan keterbatasan pengetahuan?

            Kalau keyakinan bahwa para nabi itu harus selalu dari Arab atau Timur Tengah disebabkan adanya kepentingan politik dan ekonomi, jahat sekali orang-orang itu. Mereka harus bertanggung jawab di hadapan Allah swt atas perilaku mereka.

            Kalau disebabkan kurang pengetahuan karena keterbatasan berbagai faktor, tidaklah mengapa. Hal itu tidak menjadi dosa karena kurang pengetahuan yang kemudian melahirkan pemahaman yang salah. Dalam dunia ilmu pengetahuan yang namanya “salah” itu boleh karena bisa diperbaiki. Hal yang tidak diperbolehkan dalam ilmu pengetahuan adalah “berbohong” karena akan merusakkan segalanya.

            Allah swt sendiri tidak pernah mengatakan bahwa para nabi itu seluruhnya berasal dari Arab atau Timur Tengah. Allah swt justru menjelaskan bahwa para nabi ada di seluruh penjuru dunia.

            “Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” (QS Yunus 10 : 47)

            Tiap-tiap umat mempunyai rasul.

            Tidak jelaskah kalimat itu?

            Ada berapa ribu umat di seluruh dunia ini?

            Sejumlah itulah rasul diutus ke setiap umat, setiap ras, setiap suku, dan setiap bangsa di dunia. Dengan demikian, di akhirat nanti tidak ada alasan bagi setiap manusia untuk menghindar dari pertanggungjawaban dengan alasan “tidak pernah ada seorang pun pemberi peringatan kepada mereka”. Allah swt tidak meluputkan satu umat pun dari kedatangan rasul dari sisi-Nya.

            “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”  (QS Fathir 35 : 24)

            Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.

            Tegas sekali Allah swt menjelaskan bahwa tidak ada satu umat pun di dunia ini yang tidak diutus nabi kepada mereka. Seluruh kelompok manusia telah didatangi oleh para rasul.

            “Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ibrahim 14 : 4)

            Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.

            Para nabi dan rasul yang diutus ke seluruh dunia itu menggunakan bahasa kaumnya masing-masing. Untuk Sunda, rasul yang diutus berbahasa Sunda. Untuk Jawa, berbahasa jawa. Untuk Batak, berbahasa Batak. Demikian pula untuk suku-suku yang ada di Indonesia dan di seluruh dunia ini. Para rasul hadir dengan menggunakan bahasa sukunya masing-masing agar penjelasan yang disampaikan para rasul itu mudah dipahami dengan terang dan jelas oleh masyarakatnya masing-masing.


Tanda Kenabian Prabu Siliwangi as

a. Ajaran Tauhid

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS Al Anbiya 21 : 25)

            Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah swt memberikan pengetahuan kepada setiap rasul itu dengan ajaran tauhid, yaitu mengesakan Allah swt. Dengan keyakinan seperti itu, manusia diharuskan hanya menyembah kepada Allah swt, tidak kepada hal yang lain. Ayat di atas pun menegaskan bahwa rasul-rasul yang diutus adalah sebelum kerasulan Muhammad as. Artinya, rasul-rasul itu adalah para rasul sebelum masa Nabi Muhammad saw dan Nabi Muhammad saw adalah rasul terakhir. Tak ada rasul setelah Nabi Muhammad saw. Jadi, jangan percaya kalau ada orang yang mengaku-aku nabi atau diakui sebagai nabi, tetapi hidup setelah Nabi Muhammad saw. Jangan pula percaya kepada seseorang yang mengaku atau diakui sebagai nabi, tetapi tidak mengajarkan tentang tauhid dan tidak memerintahkan penyembahan hanya kepada Allah swt.

            Ucapan atau tulisan yang berasal langsung dari Prabu Siliwangi sendiri memang tidak ditemukan peninggalannya karena tenggelam dan hancur bersama hancurnya Benua Sundaland yang mengakibatkan benua itu berkeping-keping menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Benua Sundaland dihancurkan oleh Allah swt karena kesombongan penduduknya yang sangat cerdas dan kaya raya serta melupakan ajaran tauhid dari Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaiman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya di seluruh Nusantara ini.

            Meskipun demikian, ajaran Prabu Siliwangi tetap diingat oleh para pengikutnya dan keturunannya yang diselamatkan Allah swt dari bencana mahadahsyat itu. Beberapa raja Sunda mencoba mengabadikan ajaran-ajaran Prabu Siliwangi as dalam berbagai bentuk tulisan. Misalnya, sebagaimana yang direkam oleh Prabu Munding Laya bin Gajah Agung bin Cakrabuana bin Aji Putih, Raja Sumedang Larang.

            “Dina Agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu, ‘Nya inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa, aya tanpa waruga, hanteu ka ambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana’.”

            Artinya.

            “Dalam Agama Sunda Wiwitan (Mula-Mula), ada ajaran seperti ini, ‘Dia-lah Yang Mahaagung dalam keberadaan-Nya, ada tanpa kelihatan rupa-Nya, ada tanpa kelihatan wujud-Nya, tidak tercium keberadaan-Nya, tetapi berkuasa yang kemahakuasaan-Nya adalah sesuai dengan kehendak-Nya’.”

            Ada lagi.

            “Hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung.”

            Artinya.

            “Tuhan Tunggal Yang Mahaagung. Sesungguhnya, Dia-lah yang sebenarnya tujuan penyembahan manusia, tidak punya anak dan tidak punya saudara, punya kerabat dan teman juga tidak di seluruh jagat dan seluruh alam ini. Dia yang paling unggul dalam segala rupa hal. Hung! Itulah agama pegangan kebenaran yang sejati. Ahung!”

            Ada lagi.

            "Utek, tongo, walang, taga, manusa, buta, detia, lukut, jukut, rungkun, kayu, keusik, karihkil, cadas, batu, cinyusu, talaga, sagara, Bumi, langit, jagat mahpar, angin leutik, angin puih, bentang rapang, bulan ngempray, sang herang ngenge nongtoreng, eta kabeh ciptaan Sang Hyang Tunggal, keur Inyanamah sarua kabeh oge taya bedana."

            Artinya.

            “Cacing-cacing, tungau, belalang, taga, manusia, raksasa, jin, lumut, rumput, semak-semak, kayu, kerikil, cadas, batu, mata air, danau, lautan, Bumi, langit, seluruh dunia, angin kecil, angin topan, bintang bertaburan, Bulan bercahaya, Matahari bersinar terik. Itu semua ciptaan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa). Bagi-Nya semua itu tidak ada bedanya.”

            Itu semua adalah beberapa dari ajaran tauhid dalam bahasa Sunda. Ajaran tauhid ini pasti diajarkan oleh seorang nabi. Tidak mungkin ajaran tauhid berasal dari seorang filosof karena ketauhidan itu selalu harus ada campur tangan Allah swt, baik langsung maupun melalui malaikat. Seseorang yang memikirkan asal mula dunia dengan jalan meditasi dan berpikir filosofis, selalu terjatuh dalam kesesatan atau kemusyrikan jika tidak dibimbing oleh orang yang sudah bertauhid lebih dulu. Tak ada orang yang melalui proses berpikir sendiri mampu mendapatkan ilmu tauhid. Ilmu tauhid hanya bisa diajarkan oleh Allah swt atau malaikat kepercayaan Allah swt kepada orang yang sangat dipercayai-Nya.

            Siapa orangnya yang telah diberikan pengetahuan tentang tauhid berbahasa Sunda lama kalau bukan Prabu Siliwangi as?

            Agama Sunda Wiwitan atau Agama Sunda Mula-Mula adalah Agama Islam yang dibawa Prabu Siliwangi as sebelum ajaran Muhammad saw. Agama itu kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Terakhir Penyempurna Ajaran Islam Muhammad saw.


b. Mudahnya Islam Tersebar di Sunda

Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw pun sangat mudah tersebar di tanah Sunda dan diterima dengan baik pula oleh masyarakat. Hal itu disebabkan memang masyarakat Sunda sudah menjalankan ajaran Islam yang dibawa oleh Prabu Siliwangi as. Tak ada penolakan yang berarti terhadap Islam karena memang sudah Islam sejak lama. Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw menjadi penyempurna ajaran Islam yang dikenal dengan nama ajaran Sunda Wiwitan. Jadi, bukan karena pagelaran wayang, degung, dan syair-syair, masyarakat Sunda dengan mudah menerima Islam, melainkan memang sudah Islam sejak lama. Wayang, degung, syair, dan lain sebagainya yang digunakan oleh para wali hanya merupakan media atau alat untuk menyiarkan Islam, tetapi bukan menjadi penyebab utama mudahnya ajaran Islam diterima dengan baik.

            Hal tersebut pun menjelaskan bahwa seolah-olah Sunda sama dengan Islam. Orang Sunda harus Islam. Jika orang Sunda tidak beragama Islam, sulit sekali orang Sunda lainnya mengatakan orang tersebut adalah masih orang Sunda. Jika orang Sunda murtad dari Islam, seolah-olah ia pun sekaligus murtad dari Suku Sunda. Oleh sebab itu, sulit sekali kita mendapatkan orang Sunda yang agamanya bukan Islam. Bahkan, hampir tidak ada.

            Hal tersebut pernah disampaikan dalam pidato Ketua Pendiri Yayasan Al Ghifari Sali Iskandar yang sempat dimuat dalam majalah Mangle, “Orang Sunda harus Islam. Jika tidak Islam, kita sulit sekali menyebut dia sebagai orang Sunda.”

            Sebenarnya, bukan hanya di Sunda Islam mudah sekali diterima. Buktinya, Indonesia ini menjadi negara pemeluk Islam terbesar di dunia. Hal itu disebabkan sudah sejak lama suku-suku di Indonesia ini melaksanakan ajaran tauhid sebelum Islam dari Nabi Muhammad saw disebarkan. Misalnya, di Batak ada agama Parmalim yang inti ajarannya adalah tauhid, yaitu Mula Jadi Na Bolon, ada pula agama Kaharingan yang ajarannya juga sama-sama tauhid. Banyak sekali agama lokal di Indonesia ini yang berintikan ajaran tauhid. Hal itu menunjukkan adanya nabi-nabi di seluruh Indonesia yang mengajarkan tauhid dengan menggunakan bahasa kaumnya masing-masing. Sayangnya, mereka masih belum mendapatkan penerangan yang benar dan mencerahkan mengenai ajaran tauhid Nabi Muhammad saw yang sebetulnya hadir untuk menyempurnakan ajaran yang dibawa nabi-nabi mereka pada masa lalu.


c. Berhubungan dengan Allah swt dan Malaikat

Dalam berbagai kisah para nabi, selalu ada kontak langsung antara nabi dengan Allah swt atau paling tidak dengan malaikat kepercayaan Allah swt. Hal ini pun dapat dijadikan standar apakah seorang tokoh itu pantas dipercaya sebagai nabi atau tidak. Sekarang, mari kita lihat dengan Prabu Siliwangi as.

            Dalam naskah Jatiraga dituliskan bahwa Sang Hyang Jatiniskala benar-benar bersifat niskala, tidak dapat terbayangkan, tidak dapat dikonkritkan.

            “Sebab Aku adalah asli dan dari keaslian. Tidak perlu diubah dalam bentuk benda alam yang tidak asli dan tidak jujur sebab Aku adalah jujurnya dari kejujuran.”

            Dari mana kalimat-kalimat itu berasal?

            Siapa yang mengklaim diri “Aku” dalam kalimat di atas?

            Iblis atau syetan tidak mungkin berbicara seperti itu. Hal itu disebabkan Iblis selalu menginginkan adanya benda yang diwujudkan untuk dianggap “Tuhan”. Benda itulah yang menjadi berhala sesembahan manusia. Begitulah Iblis menyesatkan jin dan manusia.

            Berbeda dengan kalimat tadi yang menyatakan diri untuk “tidak perlu diubah dalam bentuk alam”. Kata-kata itu pasti berasal dari “diri” yang tidak ingin disamakan dengan benda apa pun di alam ini karena Dia berbeda dengan segala ciptaan-Nya.

            Siapa lagi yang berbicara seperti itu kalau bukan Allah swt?

            Sang Hyang Jatiniskala adalah Allah swt.

            Pernyataan “diri” yang juga sama tegasnya ada dalam naskah Sang Hyang Raga Dewata.

            “Hanteu nu ngayuga Aing. Hanteu manggawe Aing. Aing ngaranan maneh, Sanghiyang Raga Dewata.”

            Artinya.

            “Tidak ada yang menjadikan Aku. Tidak ada yang menciptakan Aku. Aku menamai diri sendiri, Sang Hyang Raga Dewata.”

            Kata-kata tegas itu terasa sekali berasal dari Allah swt. Ilmu tauhid.

            Sang Hyang Raga Dewata adalah Allah swt.

            Sifat-sifat Sang Hyang Raga Dewata pun dijelaskan sebagai berikut.

            “Datang tanpa rupa, tanpa raga, tak terlihat, perkataan (senantiasa) benar. Rupa direka karena ada. Aku-lah yang menciptakan, tetapi tak terciptakan, Aku-lah yang bekerja, tetapi tidak dikerjakan, Aku-lah yang menggunakan, tetapi tidak digunakan.”

            Dia berbeda dari makhluk-Nya. Firman-Nya selalu benar. Ia menciptakan berbagai rupa karena diri-Nya memang ada. Ia berkuasa melakukan sesuatu dan tidak ada yang berkuasa atas diri-Nya.

            Sang Hyang Raga Dewata adalah Allah swt.

            Allah swt menyampaikan kalimat itu pasti tentunya kepada manusia pilihan-Nya sendiri, bisa secara langsung, bisa pula melalui malaikat. Yang jelas, “manusia pilihan” itu adalah sosok istimewa dan agung.

            Siapa dia?

            Siapa lagi kalau bukan Prabu Siliwangi as.

            Dalam hal berhubungan dengan malaikat jelas sekali saat penanaman benih padi yang pertama di muka Bumi ini. Nabi Prabu Siliwangi as adalah orang yang dipercaya Allah swt untuk memulai menanam benih padi di dunia. Naskah tentang ini sangat panjang, tetapi saya coba sampaikan bait-bait yang langsung berkaitan dengan proses penyerahan bibit padi kepada Prabu Siliwangi as dan dimulainya penanaman bibit padi tersebut. Naskah ini saya dapatkan di dalam Proceeding: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi (1991) yang ditulis oleh orang-orang ahli dari berbagai negara di dunia yang tertarik terhadap sosok Prabu Siliwangi as.

            Allah swt memerintahkan malaikat yang bernama Ki Bagawat untuk menyampaikan benih padi kepada Prabu Siliwangi as.

            “Maneh teh kudu lumaku ka Perebu Siliwangi. Nagarana di Pakuwan. Ku Aki teh bawa binih. Sanggakeun ku Ki Bagawat. Parentahkeun kudu tani.”

            Artinya.

            “Kamu harus menemui Prabu Siliwangi. Negaranya di Pakuwan. Bawa oleh Aki benih itu.  Serahkan oleh Ki Bagawat. Perintahkan harus bertani.”

            Allah swt memerintahkan Malaikat Ki Bagawat untuk menghadap Prabu Siliwangi as sambil membawa benih padi. Ki Bagawat harus memerintahkan bertani padi kepada Prabu Siliwangi as.

             “Wiyosing sera kapungkur. Kami teh ngirimkeun binih. Ayeuna kudu dipelak. Sareng na kudu gumati. Andumkeun ka wadya balad. Ulah aya nu kari.”

            Ki Bagawat menjelaskan bahwa dia memberikan benih yang harus ditanam saat itu juga. Pekerjaan menanam benih itu harus dilakukan oleh seluruh rakyat, tidak boleh ada yang tertinggal.

            “Ngarana anu ditandur Nyi Puhaci Sangiyang Sri. Pelak di cai, di darat. Galengna masing beresih. Di darat nya kitu pisan. Jalan huni sing beresih.”

            Benih padi yang harus ditanam itu namanya Nyi Puhaci Sangiyang Sri. Benih itu bisa ditanam di tanah yang berair. Pematang-pematangnya harus bersih. Jalan-jalan di perkampungan yang dilalui oleh benih padi pun harus bersih.

            “Pagerna masing kukuh. Poma-poma wekas kami. Eta perkara melakna anu putih pada putih, anu beureum pada beureumna. Ulah pabaur sasiki.

            Ki Bagawat menerangkan bahwa lahan pertanian harus dipagari dengan kuat. Benih yang harus ditanam pun harus terpisah antara benih padi berwarna putih dengan padi berwarna merah. Tidak boleh tercampur sedikit pun.

            “Eta perkara tarigu gandrung sarawuh jeung kunyit. Ayeuna geura tinggal sabab eta hamo nepi segerna reujeung raosna. Berkatna nya kitu deui.”

            Ki Bagawat pun menjelaskan bahwa padi, terigu, kunyit, dan tanaman di seputar padi sangatlah nikmat dan segar. Bahkan, tanaman-tanaman itu telah mendapatkan berkah dari Allah swt.

            Prabu Siliwangi as pun menerima perintah untuk menanam benih itu.

            “Dewa Guru ingkang Agung. Kang miyosing sawergi. Anggrek jagat pamulan. Perkawis timbalan Gusti maparinkeun bibinihan, ku abdi anggeus katampi.”

            Sang Prabu as pun segera bersyukur dan berdoa.

            “Timbalan Gusti. Sukur sewu berkah Gusti sareng diestukeun pisan nyuhunkeun berekah Gusti. Ti dinya serat ditampa ku Aki Bagawat Sang Sri.”

            Rasa syukur dan doa Prabu Siliwangi segera diterima oleh Ki Bagawat untuk kemudian disampaikan kepada Allah swt.

            Saat itu pula Prabu Siliwangi as segera memerintahkan Ki Patih untuk menggerakkan rakyat menanam benih padi.

            “Geus kitu Raja nimbalan. Ki Patih maneh ayeuna geura indit. Ayeuna maneh sing estu ngumpulkeun wadya balad. Poma-poma ulah aya nu kalarung. Geus puguh jero nagara. Lembur kabeh pada yakti.”

            Artinya.

            “Setelah itu Raja memberikan perintah. Ki Patih kamu sekarang segera pergi. Kamu harus mengumpulkan seluruh rakyat. Ingat, jangan sampai ada yang terlewat, terutama yang ada di dalam negara. Seluruh wilayah harus bekerja bakti.”

            Ki Patih pun patuh, kemudian sesegera mungkin memberikan pengumuman perintah Prabu Siliwangi as. Rakyat kaget dengan perintah yang tiba-tiba itu.

            “Wadya balad sadayana pada kaget nabeuh bende, ngungkung nitir. Ti dinya kabeh garugup. Kabeh sadiya pakakas. Anu deukeut anu jauh pada kumpul. Kocap lalampahanana, eta sela berkiti.”

            Seluruh rakyat terkejut. Semuanya segera menabuh tetabuhan berulang-ulang tanda ada perintah penting Sang Prabu as. Semuanya gugup, kemudian menyediakan perkakas yang ada. Rakyat yang dekat dan jauh semuanya berkumpul dengan sigap untuk melaksanakan perintah Raja as.

            Ki Patih pun memberikan perintah mengenai tatacara menanam benih padi yang pertama di dunia.

            “Pelak di cai di darat. Tilu ranggeuy lobana tah eta binih. Hanteu leuwih ti sakitu. Timbalanana Sang Dewa. Yang Permesti eta teh kudu diandum. Maparinkeun bibinihan. Lobana teh eta binih ku urang nagri Pakuwan. Ulah aya nu kari.

            Iyeu nu baris di darat masing apik galengna kudu beresih. Poma maneh mudu turut kana parentahna Dewa sabab eta pikeun maneh nyaratu. Upama teu dirasanan, kumaha bae Sang Gusti.”

            Artinya.

            “Tanam di air di darat. Tiga rangkai banyaknya itu benih. Tidak boleh lebih daripada itu. Itu perintahnya Sang Dewa. Yang Permesti itu harus dimuliakan. Memberikan benih-benih. Banyaknya itu benih oleh orang negeri Pakuwan. Jangan ada yang tersisa.

            Ini yang ditanam di darat harus apik pematangnya harus bersih. Ingat, kalian harus patuh pada perintahnya Dewa sebab itu untuk makanan kalian. Kalaulah tidak diberikan keberhasilan, terserah Yang Mahakuasa saja.”

            Demikianlah awal mulanya ada padi dan tatacara penanaman benih padi yang pertama di dunia ini. Setelah adanya benih padi itu, dalam kisah-kisah selanjutnya, rakyat di bawah Prabu Siliwangi as di Benua Sundaland hidup sangat makmur dengan beras berlimpah ruah, tak pernah kekurangan pangan, gemah ripah loh jinawi, penduduknya pun semakin kaya raya. Tak heran jika Atlantis yang sering dibicarakan orang secara ngawur itu memang benar-benar ada di wilayah Benua Sundaland, Indonesia.


Prabu Siliwangi as-Borobudur-Islam

Terdapat keterkaitan yang sangat menarik antara ajaran Islam Prabu SIliwangi as dengan Borobudur yang dibangun Nabi Sulaiman as dengan ajaran Islam sempurna yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Hal itu bisa dilihat dari ajaran-ajarannya.

            Dalam ajaran Sunda Wiwitan yang dibawa oleh Prabu Siliwangi as, ada tiga macam alam, yaitu Buana Nyungcung, Buana Panca Tengah, dan Buana Larang. Buana Nyungcung adalah tempat bersemayam Sang Hyang Kersa (Tuhan Yang Maha Berkehendak) yang letaknya paling atas. Buana Panca Tengah adalah tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya yang letaknya di tengah. Buana Larang adalah tempatnya perilaku buruk yang akan menyebakan manusia masuk neraka, letaknya paling bawah.

            Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Sunda mempraktikan ajaran ini dalam hal membangun rumah. Rumah-rumah tradisional Sunda adalah rumah panggung. Demikian pula untuk langgar, mushalla, surau, bahkan masjid. Bangunan panggung itu merupakan perwujudan dari keyakinan adanya ketiga alam tadi. Bangunan panggung adalah tempatnya manusia hidup untuk mendapatkan ketenangan, kemuliaan, kedamaian, dan petunjuk Tuhan. Adapun bagian kolong rumah dan tanah di seputar rumah serta di seluruh Bumi merupakan tempat segala perilaku buruk yang dapat menjerat manusia ke dalam neraka. Jika keluar rumah atau bangunan lainnya, kemudian menginjakkan kaki ke tanah, sama artinya dengan harus berhadapan dengan segala kesibukan duniawi yang bisa membuat manusia terjebak dalam berbagai kesesatan. Oleh sebab itulah, manusia harus kembali ke rumah atau bangunan panggung untuk kemudian melakukan koreksi diri sehabis menghadapi rimba kehirukpikukan dunia sehingga mendapatkan ketenangan dan kemuliaan. Di tempat ini pula manusia dapat beribadat untuk memperoleh petunjuk Tuhan. Adapun bagian atas rumah sampai ke langit adalah tempatnya kebenaran hakiki, yaitu Sang Hyang Kersa, Yang Maha Berkehendak, Allah swt.

            Di Borobudur yang dibangun Nabi Sulaiman as ada tiga tingkat, yaitu: Kamadatu, Rupadatu, dan Arupadatu. Kamadatu adalah tingkat kehidupan manusia yang paling rendah dan hidup layaknya binatang dengan segala hawa nafsu dan tipu dayanya, sebagaimana hidup dalam keseharian kita yang harus berhadapan dengan rupa-rupa situasi. Rupadatu adalah tingkat kehidupan manusia yang lebih baik lagi karena di sinilah manusia mulai tersadar dengan berbagai kekhilafannya dan mencoba menenangkan diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Di sini pula terjadi perang antara pikiran baik dan buruk yang jika manusia mampu menang, akan menjadi lebih baik lagi, tetapi jika kalah, ia akan terjatuh ke dalam tingkat Kamadatu. Tingkat terakhir adalah Arupadatu tempat segala ketenangan dan kemuliaan Allah swt berada.

            Dalam ajaran Islam sempurna yang dibawa oleh Muhammad saw ada ilmu pengetahuan mengenai amarah, lawamah, dan  muthmainah. Amarah adalah nafsu kehewanan yang ada dalam diri manusia. Manusia hidup bagai hewan dengan segala kerakusannya, kecurangannya, kesombongannya, dan kebodohannya. Lawamah adalah nafsu penyesalan manusia atas keburukan-keburukan yang pernah dilakukannya. Di sinilah mulai adanya keinginan lebih kuat untuk memperbaiki diri dan mengharapkan petunjuk serta pertolongan Allah swt. Muthmainah adalah nafsu yang sudah berada dalam keadaan tenang dan stabil. Dirinya sudah dipenuhi cahaya Illahi dan tenggelam dalam kemuliaan Allah swt.

            Jadi, Buana Larang = Kamadatu = Nafsu Amarah. Kemudian, Buana Panca Tengah = Rupadatu = Nafsu Lawamah. Setelah itu, Buana Nyungcung = Arupadatu = Nafsu Muthmainah.

            Apabila dibahas lebih panjang, hal ini terhubung dengan syariat, tarekat, hakekat, makrifat, iman, Islam, dan ihsan. Begitulah Allah swt mengajarkan Islam secara bertahap kepada seluruh manusia dengan bahasanya masing-masing yang kemudian disempurnakan oleh Islam yang diajarkan Muhammad saw.

            Saya sangat setuju sekali dengan pernyataan Quraish Shihab yang menurutnya, ketika Muhammad saw hadir sebagai Rasul, sesungguhnya bangunan Islam itu sudah lama berdiri, tetapi masih kurang satu bata. Nabi Muhammad saw-lah yang menjadi satu bata yang kurang itu sehingga bangunan Islam pun lengkap dan sempurna.


Kehancuran Akibat Dosa dan Keangkuhan

Setelah mendapat berkah Allah swt yang berupa padi dan makanan lainnya, rakyat Benua Sundaland hidup dalam kemakmuran, kekayaan, keagungan, dan kehebatan dalam berbagai bidang, terutama teknologi. Beberapa generasi pasca-Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaiman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya, mendapatkan kegemilangan luar biasa yang membuat orang-orang penasaran sampai hari ini. Akan tetapi, sayangnya, kemewahan duniawi telah membuat mereka rakus seperti kata pepatah “diberi hati minta jantung”. Mereka ingin lebih kaya lagi dan lagi. Mereka pun berdoa kepada Allah swt supaya ditambah lagi kekayaan dan kekuasaannya. Sayangnya, Allah swt tidak mengabulkan keinginan mereka karena keinginan mereka itu buruk dalam pandangan Allah swt. Akibatnya, mereka kecewa dan terus kecewa hingga mencari sesembahan lain di luar Allah swt. Mereka pun mulai menjadi kafir dan menyembah berhala serta Iblis. Mereka pun melupakan ajaran-ajaran para nabi terdahulu, kecuali sedikit orang-orang lemah yang masih ingat. Setelah kekafiran mereka keterlaluan, Allah swt pun menghancurkan Benua Sundaland yang megah itu hingga hancur lebur bagai serpihan-serpihan kue kering yang berantakan kemana-mana hingga menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Kehebatan dan kegemilangannya dikubur dan ditenggelamkan dalam-dalam hingga orang sulit sekali mencarinya hingga kini. Saking hancurnya dan miskinnya, padi yang asalnya dipercayakan Allah swt kepada penduduk Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia, telah dikuasai oleh penduduk wilayah lain. Akibatnya, keturunan manusia-manusia yang dipercaya menanam padi pertama di muka Bumi ini pun harus impor beras dari negeri lain.

            Siapa keturunan orang-orang itu?

            Ya, kita-kita ini.

            Kasihan sekali kita, ya?

            Makanya, jangan melakukan dosa dan jangan berkhianat terhadap hal apa pun.

Friday, August 26, 2016

Rusaknya Prabu Siliwangi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Keberadaan Prabu Siliwangi yang dikenal sebagai Raja Sunda yang paling agung dan memiliki keterkaitan dengan masyarakat di seluruh Pulau Jawa berasal dari folklore (ceritera lisan yang diwariskan turun-temurun). Bukan hanya masyarakat Sunda yang memiliki kisah-kisah lisan mengenai Prabu Siliwangi, melainkan pula masyarakat Jawa. Terdapat beberapa kisah mengenai dirinya yang diklaim berhubungan dengan Suku Jawa.

            Dari folklore itu, masyarakat umum, para penyair, keturunan raja-raja, dan para akademisi terbagi menjadi dua golongan. Kedua golongan itu adalah pertama, mereka yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi adalah tokoh nyata yang benar-benar pernah hidup di dunia, sedangkan golongan kedua adalah mereka yang berpandangan bahwa Prabu Siliwangi merupakan tokoh sastra hasil ciptaan para penyair pada saat Sunda mengalami penderitaan panjang dan merindukan figur yang kuat dan adil serta perkasa yang mampu menghilangkan segala kesusahan yang ada.

            Sampai hari ini kedua golongan itu sama kuatnya dalam berpendapat. Hal itulah yang menurut saya telah membuat kerusakan terhadap tokoh Prabu Siliwangi sendiri. Siapa pun yang menelusuri eksistensi Prabu Siliwangi, selalu terbentur pada hal-hal yang membingungkan dan kusut. Keberadaan Prabu Siliwangi dan sejarah kebesaran Sunda selalu “macet” dan tak bisa bergerak lagi karena tertahan pada sosok Sri Baduga Maharaja. Siapa pun akan selalu menemukan kesemrawutan antara catatan sejarah dengan kisah-kisah pantun, apalagi para akademisi atau para ahi sejarah banyak yang menggunakan karya para penyair untuk dijadikan dasar penulisan sejarah. Tak heran jika sosok Prabu Siliwangi dan sejarah Sunda selalu kalang kabut karena berdasarkan tulisan-tulisan yang diklaim kuno. Tulisan-tulisan kuno yang berasal dari para penyair itu tentu saja ditulis para penyair dan tidak ada seorang pun yang mampu menjamin bahwa hal itu merupakan kebenaran. Tak ada naskah yang dijamin kebenarannya di dunia ini, kecuali Al Quran. Di samping itu, semua naskah atau teks di seluruh muka Bumi ini selalu rawan pemalsuan, selalu mudah diputarbalikkan, selalu gampang ditambah-tambahi dan dikurang-kurangi. Hanya ada satu naskah di dunia ini yang tidak bisa diubah-ubah, yaitu Al Quran.

            Kerusakan, kesemrawutan, dan kekacauan sosok Prabu Siliwangi dan sejarah Sunda kemungkinan besar disebabkan adanya banyak kepentingan politik, ekonomi, popularitas, dan otoritas keilmuan. Bukan hanya sejarah Sunda dan sosok Prabu Siliwangi sebenarnya yang sengaja dikacaukan, melainkan pula sejarah Nusantara ini. Hal itu disebabkan apabila sejarah kerajaan yang satu dikacaukan, akan mengakibatkan kekacauan pula terhadap sejarah kerajaan yang lainnya karena kerajaan-kerajaan itu saling berhubungan. Dengan dikacaukannya sejarah suatu kerajaan, menimbulkan konsekwensi bahwa harus ada yang diubah dalam hubungan-hubungan yang terjadi di antara kerajaan-kerajaan yang ada. Misalnya, suatu kerajaan diklaim lebih awal berdiri dibandingkan kerajaan yang lainnya dengan maksud agar keturunan kerajaan yang lebih belakang berdiri harus menghormati kerajaan yang lebih dulu berdiri. Dengan demikian, keturunan raja-raja yang lebih muda dapat menganggap wajar jika keturunan kerajaan yang lebih awal berdiri memiliki kekuasaan lebih di tanah Nusantara ini pada masa-masa selanjutnya. Hal itu semua merupakan permainan untuk mendapatkan kekuasaan politik dan ekonomi.

            Ada beberapa penyebab yang membuat sejarah Prabu Siliwangi dan Pajajaran menjadi rumit dan semakin rumit, bahkan mengarah pada mitos dan khayalan sehingga kabur dari kenyataan yang sesungguhnya. Paling tidak, ada tulisan Saleh Danasasmita yang diterbitkan oleh HU Pikiran Rakyat, Bandung, tertanggal 13-4-1985, hlm. 6. Tulisannya ini membuat kita mengerti mengenai penyebab kekacauan sejarah sosok Prabu Siliwangi dan sejarah Sunda. Tulisannya berjudul Disebabkan oleh Tiga Buah Teori, Sejarah Jawa Barat Macet.

            Teori-teori yang membuat kemacetan sejarah ini adalah Teori Holle, Teori Hoesein Djajadiningrat, dan Teori Poerbatjaraka. Ketiga teori inilah yang disalahkan oleh Danasasmita karena telah membuat macet sejarah Jawa Barat.

            Teori Holle (1867) mengatakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Baduga Maharaja. Teori Hoesein Djajadiningrat (1913) mengatakan bahwa tokoh Faletehan alias Tagaril dalam sumber Portugis identik dengan Syarif Hidayat yang oleh orang kebanyakan disebut Sunan Gunung Jati. Teori Poerbatjaraka (1912) mengatakan bahwa Sri Baduga Maharaja gugur di Bubat (Majapahit) tahun 1357.

            Ketiga teori itu telah membuat kerusakan dalam hal titimangsa berdirinya kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, perjalanan atau perkembangan kerajaan, serta mengacaukan silsilah para keturunan raja.

            Hal yang lebih parah adalah para akademisi selanjutnya atau para ahli sejarah generasi selanjutnya semacam “diwajibkan” untuk selalu menyandarkan penelitiannya pada teori tersebut. Apabila terjadi perbedaan atau menemukan data yang berlainan dengan ketiga teori tadi, segera dituduh sebagai Een Pseudo Padjadjaransche Kroniek (Tambo Pajajaran yang palsu). Sering pula penelitian yang berbeda segera ditertawakan para ahli sehingga “membekukan” perbedaan itu. Hasil-hasil penelitian yang berlainan dengan ketiga teori tadi harus segera “dianggap tidak ada” dan harus disebut verward (kusut).

            Pemaksaan untuk selalu menganggap benar Holle, Poerbatjaraka, dan Hoesein Djajadiningrat mengakibatkan “pemerkosaan” terhadap ilmu pengetahuan dan menghancurkan banyak data sejarah. Hal itu disebabkan segala data yang bertentangan dengan ketiga orang tadi segera harus “dibuang”, “diberangus”, “dipensiunkan”, dan “dilecehkan”. Perilaku semacam itu sungguh merupakan pengkhianatan terhadap kemanusiaan, meruntuhkan wibawa ilmu pengetahuan, dan merendahkan martabat para ilmuwan.

            Ilmu pengetahuan itu harus bersifat terbuka dan bersedia setiap saat untuk diuji kebenarannya. Jika suatu penelitian dapat tahan uji, ilmu pengetahuan itu harus dianggap benar sepanjang belum ada yang membuktikan kebalikannya. Jika suatu pengetahuan dapat dikalahkan oleh pengetahuan yang baru, pengetahuan yang lama harus digugurkan dan harus menggunakan pengetahuan yang lebih baru dan lebih benar. Itulah yang dimaksud Nabi Muhammad saw bahwa hari ini harus lebih baik dibandingkan hari kemarin dan masa depan harus lebih baik dibandingkan hari ini.  Kita harus selalu terbuka dengan data baru dan hasil penelitian terbaru yang terbukti mengalahkan penelitian lama.

            Apabila suatu penelitian tidak bersedia diuji dan tidak boleh dianggap salah, itu bukanlah pengetahuan, melainkan doktrin, dogma yang tidak boleh dipertanyakan kebenarannya. Orang tidak boleh bertanya dan menguji hal-hal itu. Oleh sebab itu, hasil-hasil penelitian Holle, Poerbatjaraka, dan Hoesein Djajadingrat harus dianggap bukan ilmu pengetahuan karena tidak bersedia diuji. Hasil penelitian mereka hanyalah melahirkan doktrin dan dogma yang harus selalu dianggap benar. Saya menyarankan bagi para pendukung mereka untuk segera mengumumkan bahwa penelitian ketiga orang itu adalah “kitab suci sejarah” yang tidak boleh diganggu gugat. Sungguh sangat rendah sekali perilaku seperti itu.

            Tindakan-tindakan membuang data, menertawakan hasil berbeda, mempensiunkan naskah-naskah kuno, memberangus data berbeda, dan melecehkan pendapat yang berbeda merupakan tindakan yang menghambat perkembangan manusia dan kemanusiaan. Alasan aneh yang digunakan mereka untuk menghalangi pendapat lain adalah dalam rangka “menjaga stabilitas kesejarahan yang ada”. Dengan alasan aneh itu, matilah ilmu pengetahuan karena harus selalu setuju pada sesuatu hal yang dianggap stabil, padahal yang stabil itu belum tentu benar.

            Akibat selanjutnya adalah sejarah sosok Prabu Siliwangi dan Sunda selalu dalam keadaan semrawut. Banyak pihak yang memiliki pendapat lain dengan ketiga teori yang “harus selalu dianggap benar” itu. Pihak-pihak itu tetap menyuarakan pendapatnya sendiri dan mendapat tempat pula di kalangan masyarakat secara umum. Bahkan, mereka lebih percaya pada naskah-naskah kuno yang masih dipegang masyarakat sampai hari ini. Untuk memperkuat pendapatnya masing-masing, setiap pihak yang berbeda menggunakan syair dan pantun-pantun yang diklaim sebagai kebenaran, tetapi ternyata isinya saling bertolak belakang, berbeda, dan terkadang berlebihan.

            Itulah buruknya jika memaksakan kehendak bahwa hasil suatu penelitian dianggap sebagai kebenaran yang tidak boleh diganggu gugat. Bahaya itu akan menjadi lebih besar jika tujuan politik dan ekonomi dari penelitian itu berhasil mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Suatu kelompok masyarakat akan merasa lebih berhak dan lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya dan itu akan menimbulkan keresahan serta ketimpangan dalam masyarakat.

            Pada akhir tulisannya Saleh Danasasmita (1985) mengingatkan kita semua.

            “Rasanya masyarakat Jawa Barat tak perlu mengeluh kalau sejarah daerahnya sulit disusun dan dikembangkan karena sumber-sumber yang ada dan sedikit jumlahnya itu hampir semuanya mengandung bahan yang bertentangan dengan teori-teori Holle, Hoesein Djajadiningrat, dan Poerbatjaraka. Dalam keadaan seperti ini (masih mengikatkan diri pada teori-teori tadi) janganlah berharap kita mampu menyusun Sejarah Jawa Barat periode klasik. Lebih-lebih jangan diharapkan lagi akan berhasil memecahkan identitas Siliwangi.”

             Bagi saya, sosok Prabu Siliwangi tidaklah rusak. Orang-orang sok tahu dan berlebihanlah yang membuat rusak Prabu Siliwangi dengan berbagai mitos dan dongeng yang saling bertolak belakang.

            Apabila kita ingin lebih mengenal dan memahami Prabu Siliwangi dengan nyata, aktifkan kembali sisa-sisa data dan naskah yang sempat, “dibuang, diberangus, ditertawakan, dibekukan, dan dilecehkan” itu. Susun lagi dari awal dengan jujur tanpa ada kepentingan politik dan ekonomi. Jangan ada lagi sikap menganggap sebuah penelitian merupakan kebenaran mutlak yang tidak boleh diuji atau dipertanyakan kebenarannya. Semua harus terbuka dan bersedia berkembang untuk mendapatkan kebenaran yang lebih baik dan lebih nyata.


            Begitulah yang diharapkan Allah swt. Siapa pun yang ingin mengenal Allah swt, maka dia harus mengenal dirinya sendiri. Sejarah adalah bagian dari diri kita. Dengan sejarah yang jujur dan terbuka, kita akan mengenal diri kita sendiri dan memahami apa yang Allah swt rencanakan untuk kita serta mengetahui apa yang Allah swt inginkan dari kita. Kita ini diciptakan berbangsa-bangsa dan Allah swt merencanakan sesuatu terhadap setiap bangsa itu agar mampu berperan lebih tepat dalam menjalani seluruh putaran roda kehidupan di muka Bumi ini.

Tuesday, November 9, 2010

Bencana Merapi dalam Uga Wangsit Siliwangi dan Ramalan Sabdo Palon

oleh Tom Finaldin

Bandung, Budak Angon

Sebenarnya, berbagai hal termasuk bencana-bencana yang saat ini tengah berlangsung, leluhur kita sudah mewanti-wantinya ratusan tahun silam. Mereka sudah menggambarkannya untuk kita. Akan tetapi, sayangnya, kita, kebanyakan, terutama saya sendiri, sempat kurang atau bahkan tidak menghormati wasiat-wasiat leluhur tersebut. Hal itu disebabkan kita sudah terlalu lama berada dalam kehidupan yang terlalu tinggi menilai sesuatu yang bersifat materi, duniawi. Lingkungan sudah membentuk setiap pribadi sebagai sosok yang disiapkan untuk mencari materi, kekayaan, kekuasaan dengan mengesampingkan hal-hal yang bernilai spiritual. Kita sangat bangga jika sudah bisa mengumpulkan materi yang banyak dan merasa lebih hebat jika menjadi orang nomor satu paling banyak hartanya di antara orang-orang dekat, apalagi jika mampu menjadi paling kaya di lingkungan atau komunitas tertentu. Padahal, Allah swt sama sekali tidak pernah menilai kita dari banyak-sedikitnya materi yang kita punyai. Allah swt hanya menilai tingkat ketakwaan kita kepada-Nya, itu saja, tidak ada yang lain. Akibatnya, kita menjadi kurang waspada terhadap fenomena-fenomena alam dan sama sekali kurang atau mungkin tidak siap untuk menghadapinya.

Kita bahkan sering menganggap bahwa wasiat-wasiat leluhur itu merupakan produk yang kolot, kuno, terbelakang, dan tidak ilmiah. Padahal, sesungguhnya, memiliki nilai ilmiah yang tinggi jika dipelajari secara lebih serius. Di samping itu, para leluhur kita itu memberikan wasiat tersebut atas dasar tanggung jawabnya terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan pengabdian kepada Tuhan. Di dalam wasiat tersebut terdapat nuansa cinta, kasih sayang, tanggung jawab, perhatian, kecerdasan, pengabdian, kemuliaan, keluhuran, kesucian, serta tentunya keperkasaan.

Bencana Merapi dan bencana-bencana lain jika kita mengikuti wasiat leluhur tersebut sesungguhnya merupakan akibat dari tingkah laku manusia yang sudah kelewat batas dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Alam dan kita sesungguhnya terhubung sangat erat. Karena manusia melakukan banyak keburukan, terjadilah ketimpangan dalam hubungan tersebut. Kita mungkin tidak merasakannya, tetapi sebetulnya disharmoni tersebut telah dan terus terjadi. Kita dan alam sekitar itu terhubung karena kita semuanya berasal dari Zat Yang Satu, Allah swt.

Berikut ini saya kutipkan satu paragraf dari Uga Wangsit Siliwangi.

Dalam bahasa Sunda.

“Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui, tapi engké lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat. Urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa jaya, jaya deui sabab ngadeg ratu adil. Ratu adil nu sajati.”

Dalam bahasa Indonesia.

“Dengarkan semuanya! Zaman bakalan ganti lagi, tetapi nanti setelah Gunung Gede meletus yang disusul meletusnya tujuh gunung. Gempar lagi seluruh dunia. Orang Sunda dipanggil-panggil. Orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Senegara bersatu lagi. Nusa jaya, jaya lagi sebab berdiri Ratu Adil. Ratu Adil yang sejati.

Dalam paragraf tersebut, ada pernyataan bahwa Gunung Gede akan meletus. Ada dua pendapat mengenai hal ini. Yang dimaksud Gunung Gede itu bisa memang gunung yang bernama Gede, bisa pula gunung gede dalam arti “gunung yang berukuran besar”. Dalam bahasa Sunda, gede itu artinya besar. Oleh sebab itu, ada dua penafsiran mengenai gunung tersebut.

Jika memang yang dimaksud adalah gunung yang bernama Gede, lebih tepatnya Gunung Gede, kita akan menghadapi bencana yang lebih besar daripada Gunung Merapi. Hal itu disebabkan Prabu Siliwangi mengatakannya dengan pasti, sedangkan Merapi yang sudah meletus menakutkan saja sedikit pun tidak disingung-singgung. Artinya, peristiwa itu adalah sangat penting untuk diperhatikan. Berarti pula, Merapi itu hanya bagian kecil dari peristiwa yang akan datang dengan bencana yang lebih hebat lagi. Setelah Gunung Gede meletus, bakalan ada lagi tujuh gunung yang meletus. Dunia pun gempar dibuatnya. Kita kini tinggal menunggu kejadiannya dan sudah semestinya banyak mendekatkan diri kepada Allah swt.

Jika yang dimaksud adalah gunung yang berukuran besar, gunung tersebut adalah Gunung Merapi yang sekarang sedang sangat aktif. Dua pendapat mengenai gunung tersebut dapat dipahami dengan mudah karena yang namanya wangsit itu turun melalui lisan, bukan tulisan. Wangsit yang turun secara lisan itu, kemudian ditulis oleh para penerusnya. Para penyampai wangsit itu menulisnya dengan huruf awal kapital, Gunung Gede, bukan menulisnya gunung gede. Hal itu disebabkan dalam kalimat lisan, tidak jelas mana yang harus diberi kapital. Oleh sebab itu, wajar jika ada dua pendapat.

Saya sendiri berharap bahwa bukan Gunung Gede yang dimaksud, melainkan gunung gede atau gunung besar yang namanya Merapi. Dengan demikian, tinggal tujuh gunung lagi yang akan meletus meskipun menurut sumber resmi yang banyak dilansir media massa, ada 22 gunung berapi yang aktivitasnya mulai meningkat secara mencolok akhir-akhir ini.

Yang membuat saya sedih adalah Prabu Siliwangi mengatakannya anggeus bitu, bukan enggeus bitu. Kalau enggeus bitu, artinya ‘sudah meletus’, sedangkan anggeus bitu, artinya ‘meletus secara tuntas’. Karena kata yang digunakannya adalah anggeus bitu, Merapi saat ini tampaknya belum anggeus bituna, ‘belum tuntas meletusnya’. Merapi masih terus memuntahkan laharnya. Tak seorang ahli di dunia pun tahu kapan berhentinya.

Hal itu merupakan pertanda dari Allah swt sendiri bahwa Dia mampu melakukan apa saja dari jalan mana saja tanpa bisa diduga sebelumnya oleh manusia, bahkan oleh malaikat sekalipun. Dia adalah Mahakuat yang mampu melumatkan apa saja dan siapa saja yang dikehendaki-Nya sendiri. Peristiwa itu akan menjadi pelajaran teramat berharga bagi orang-orang yang berpikir.

Harapan saya pun disandarkan pada ramalan Sabdo Palon yang mengatakan bahwa perubahan zaman itu ditandai dengan meletusnya Gunung Merapi. Itu bisa berarti bahwa yang dimaksud Prabu Siliwangi adalah gunung yang berukuran besar, namanya Gunung Merapi.

Berikut saya kutipkan ramalan Sabdo Palon dalam bahasa Indonesia. Saya memang tidak menyertakan bahasa Jawa sebagai sumber aslinya karena cape ngetikna. Kalau Uga Wangsit Siliwangi kan berbahasa Sunda, jadi saya tidak terlalu cape ngetiknya karena saya orang Sunda. Redaksi ramalan tersebut sengaja saya ubah sedikit agar lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan fitnah karena jika tidak hati-hati membacanya, bisa timbul kesalahpahaman atau fitnah yang sangat merugikan banyak orang.

Ramalan Sabdo Palon

Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang Negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabdo Palon Noyo Genggong.

Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya, “Sabdo Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama yang suci dan baik.”

Sabdo Palon menjawab kasar, “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang setanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun, Sang Prabu, kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun, saya akan mengajarkan budi pekerti lagi. Saya sebar ke seluruh tanah Jawa.

Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan! Mereka akan saya jadikan makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan! Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini, yaitu bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Saya sudah mulai menyebarkan lagi ajaran budi pekerti. Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat diubah lagi.

Kelak akan datang waktunya yang paling sengsara di tanah Jawa ini, yaitu pada tahun Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai, sudah datang di tengah-tengah, tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

Bahaya yang mendatangi tersebar ke seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan, tidak mungkin disingkiri lagi sebab dunia ini ada ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tani pun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayu pun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis, banyak maling. Siang hari banyak begal.

Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit, sorenya telah meninggal dunia.

Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat, persis lautan pasang.

Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besar pun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal, sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikit pun.

Gempa bumi tujuh kali sehari sehingga membuat susahnya manusia. Tanah pun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakit pun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.”

Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang tiba-tiba. Dirinya tidak tampak lagi. Ia kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun, bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Demikianlah, Gunung Merapi sudah dikatakan sejak ratusan tahun silam akan meletus. Sayangnya, kita, terutama mereka yang sekarang berkuasa tidak memperhatikannya. Bahkan, sering mengolok-olok wasiat-wasiat para leluhur tersebut. Padahal, wasiat-wasiat itu sangat berguna bagi kita yang hidup saat ini. Memang benar kita harus hati-hati membacanya agar tidak terperosok dalam jurang fitnah.

Dalam istilah pewayangan, terutama wayang kulit, hadirnya Sabdo Palon mengajarkan kembali budi pekerti yang ditandai dengan letusan menggelegar Gunung Merapi dikenal dengan istilah Semar Ngejawantah.

Adapun Prabu Siliwangi mengatakannya sebagai tanda perubahan zaman. Jaman bakal ganti deui.


Prabu Siliwangi Bertutur tentang Kejahatan Zaman Demokrasi

oleh Tom Finaldin

Bandung, Budak Angon

Sebelum ngahiang, ‘pergi bersatu menuju Tuhan’, Prabu Siliwangi berpesan kepada pengikutnya yang berupa gambaran pada masa depan. Ia menggambarkan hiruk pikuk yang terjadi dalam zaman demokrasi.

Zaman demokrasi tanpa embel-embel dalam arti bukan terpimpin dan bukan Pancasila sejatinya dimulai pada masa kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Era demokrasi bukanlah dimulai masa Presiden Habibie meskipun Habibie sendiri merupakan Presiden RI pertama yang dianggap mampu melangsungkan Pemilu yang lebih jujur, adil, langsung, bebas, dan rahasia dibandingkan Pemilu-Pemilu sebelumnya pada Orde Baru. Hal itu disebabkan era Habibie masih satu zaman dengan Soeharto. Oleh sebab itu, sosok Habibie tidak disebut-sebut dalam Uga Wangsit Siliwangi.

Perlu diketahui, Prabu Siliwangi menggambarkan kondisi setiap zaman dengan menekankan pada zaman itu sendiri, bukan pemimpinnya. Oleh sebab itu, Prabu Siliwangi menandai setiap zaman dengan presiden atau pemimpin yang mengawali zaman tersebut. Ia berpandangan bahwa kondisi zamanlah yang menggerakkan sosok pemimpin dan rakyatnya sekaligus. Dengan demikian, tidak seluruh sosok presiden RI disebut dalam Uga Wangsit Siliwangi. Dalam uganya, ia hanya menyebut atau menggambarkan sosok Soekarno, Soeharto, dan Gus Dur. Hal itu disebabkan zaman Soekarno dan zaman Soeharto berbeda zaman sekaligus berbeda orang. Adapun Habibie masih satu zaman dengan Soeharto, jadi namanya tidak disebut-sebut. Zaman pun berubah, yaitu zaman Gus Dur, zaman reformasi, zaman demokrasi. Zaman Gus Dur ini berlanjut sampai sekarang, sampai tulisan ini diturunkan. Oleh sebab itu, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono tidak disebut-sebut namanya karena masih satu zaman dengan Gus Dur.

Berbeda dengan prediksi-prediksi Jawa yang lebih menekankan sosok presiden dibandingkan zaman. Dalam prediksi Jawa, sosok pemimpin itulah yang mempengaruhi zaman. Meskipun demikian, gambaran keseluruhan mengenai keadaan Indonesia, baik menurut Uga Wangsit Siliwangi maupun prediksi Jawa adalah sama.

Kitab Musarar Jayabaya merinci para pemimpin Indonesia sebagai berikut.

  1. Lung Gadung Rara Nglikasi: Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita. Ini menunjuk pada sosok Ir. Soekarno.
  2. Gajah Meta Semune Tengu Lelaki: Raja yang disegani/ditakuti, namun nista dan hina. Sosoknya menuju kepada Soeharto.
  3. Panji Loro Semune Pajang Mataram: Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan. Sosok Gus Dur memang adu kekuatan dengan Megawati.
  4. Rara Ngangsu, Randa Loro Nututi Pijer Atetukar: Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya. Sosok ini adalah Megawati yang selalu diintai kedua saudara perempuannya.
  5. Tan Kober Apepaes Tan Tinolih Sinjang Kemben: Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan. Sosoknya adalah Susilo Bambang Yudhoyono.
Habibie tidak disebut-sebut karena masih dianggap merupakan kepanjangan tangan atau sisa-sisa kekuasaan Soeharto.

Adapun R. Ng. Ronggowarsito merinci pemimpin Indonesia sebagaimana berikut ini.
  1. Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro: Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (kinunjoro) yang membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan menjadi pemimpin yang sangat tersohor di seluruh jagat (murwo kuncoro). Tokoh yang dimaksud adalah Soekarno.
  2. Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar: Tokoh pemimpin yang berharta dunia (mukti) juga berwibawa/ditakuti (wibowo), namun mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk, dan selalu dikaitkan dengan segala keburukan/kesalahan (kesandung kesampar). Tokoh ini adalah Soeharto.
  3. Satrio Jinumput Sumela Atur: Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (jinumput), tetapi hanya dalam masa transisi (sumela atur). Tokoh ini menunjuk kepada B.J. Habibie.
  4. Satrio Lelono Tapa Ngrame: Tokoh pemimpin yang suka mengembara/keliling dunia (lelono), tetapi seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan religius yang cukup/rohaniawan (tapa ngrame). Tokoh ini adalah K.H. Abdurrahman Wahid, Gus Dur.
  5. Satrio Piningit Hamong Tuwuh: Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (hamong tuwuh). Tokoh yang dimaksud adalah Megawati Soekarnoputri.
  6. Satrio Boyong Pambukaning Gapuro: Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (boyong) dan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (pambukaning gapuro). Banyak pihak yang meyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono.
Demikian, mudah-mudahan didapat sedikit kejelasan mengenai perbedaan antara Uga Wangsit Siliwangi dengan prediksi-prediksi berdasarkan spiritualis Jawa.

Kembali pada maksud tulisan ini. Prabu Siliwangi menggambarkan kejahatan-kejahatan dalam masa demokrasi yang terjadi saat ini kita rasakan bersama.

Pesannya dalam bahasa Sunda.

Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Dalam bahasa Indonesia.

Terus, berdiri lagi raja, tetapi raja buta yang membangun gerbang yang tidak boleh dibuka, membangun pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran di tengah jalan, memelihara elang di pohon beringin karena memang raja buta! Bukan buta pemaksa jahat yang sewenang-wenang, tetapi buta tidak dapat melihat, buta matanya. Buaya dan serigala, kucing garong dan monyet mencakar-cakar dan menggerogoti rakyat yang sedang dalam keadaan susah. Sekalinya ada yang mengingatkan, yang diburu bukan binatangnya, melainkan orang yang mengingatkan tersebut. Makin lama makin lama, banyak raksasa yang jahat. Mereka menyuruh menyembah lagi berhala. Pergaulan anak muda salah jalan. Kesalahan pergaulan itu diakibatkan oleh salahnya aturan dari pemerintah. Undang-undang dan hukum hanya ada di mulut dan dalam diskusi-diskusi kosong tanpa bisa ditegakkan dengan benar. Hal itu disebabkan para pejabatnya bukan ahlinya, buah padi banyak yang tidak masuk ke dapur rakyat. ........................ Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

Dalam uga tersebut, Prabu Siliwangi menggambarkan bahwa pada masa demokrasi ini banyak sekali pemimpinnya. Memang pada saat demokrasi merajalela bertebaran para pemimpin yang berada di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, ditambah lagi mereka yang bergerak di LSM-LSM. Para pemimpin itu digambarkannya sebagaimana binatang dengan sifat-sifatnya, yaitu buaya, serigala, kucing garong, dan monyet.

Buaya memiliki kekejaman yang luar biasa. Ia memiliki habitat di air yang tidak setiap makhluk hidup bisa bertahan. Kalau mendapatkan mangsa, dia putar mangsanya sampai seluruh tulang-belulangnya patah-patah, lalu dimakannya hingga habis secara bertahap. Serigala memiliki gigi tajam dan wajah yang menyeramkan. Dalam keadaan sendiri saja ia bisa membunuh mangsa yang lebih besar daripada dirinya. Akan tetapi, itu jarang dilakukannya. Serigala biasanya membunuh dengan cara berkelompok, keroyokan. Dengan gigi tajamnya ia bisa merobek-robek mangsanya untuk kemudian dimakan secara beramai-ramai dalam pesta pora darah. Kucing garong memiliki kebiasaan yang mengesalkan. Dia mencuri makanan yang akan kita santap, baik mentahnya apalagi kalau sudah dimasak. Jika kita tidak waspada, bisa-bisa makanan yang sudah ada di meja makan habis dicurinya. Meskipun bisa merebutnya kembali, biasanya kita enggan untuk mengambilnya karena sudah digigitnya dan itu menjijikan. Monyet memiliki sifat serakah yang luar biasa. Ia tidak hanya cukup makan sampai kenyang, tetapi menyimpan pula makanan di dalam mulutnya sampai pipinya menonjol, mengembang besar sekali.

Itulah sifat-sifat manusia yang berkuasa pada masa reformasi. Memang tidak semuanya, masih banyak yang baik-baik, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan memiliki kekuatan yang sangat lemah dibandingkan dengan mereka yang punya sifat binatang tadi.

Para manusia binatang itu pekerjaannya adalah mencakar-cakar rakyat yang sedang hidup susah. Mereka melakukannya dengan menggunakan hak-haknya sebagai penguasa. Rakyat pun yang menjadi mangsanya semakin hari semakin susah.

Apabila di antara elemen bangsa ada yang memberikan peringatan, protes, memberitahukan tentang berbagai kejahatan dengan harapan ada perbaikan, yang diurus bukan masalahnya, tetapi orang-orang yang mengingatkan itulah yang disudutkan dan dipersulit hidupnya. Dalam zaman ini banyak sekali aktivis bahkan pejabat tinggi sekalipun yang digeser kedudukannya dan dipersempit ruang gerak hidupnya gara-gara dianggap membukakan kedok kejahatan dalam pemerintahan.

Banyak di antara penguasa yang duduk pada awal-awal masa reformasi untuk membenahi kehidupan bangsa ke arah yang lebih baik, berubah menjadi raksasa-raksasa jahat yang menggunakan kewenangannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Dengan adanya demokrasi dan pemekaran wilayah, raksasa-raksasa jahat ini semakin banyak jumlahnya, bejibun.

Karena telah mengalami nikmatnya kekuasaan dan memahami dengan baik celah-celah untuk menjahati dan menipu rakyat. Mereka tambah senang sehingga mempertahankan sistem politik dan struktur politik saat ini. Setiap saat dalam berbagai kesempatan mereka menggemakan bahwa demokrasi itu adalah sistem politik yang terbaik, paling unggul, tidak ada yang mengalahkan. Mereka pun berupaya terus agar rakyat percaya terhadap tipuannya itu. Mereka terus menanamkan keyakinan itu kepada rakyat. Akibatnya, banyak sekali rakyat yang benar-benar meyakininya. Itulah yang dimaksud Prabu Siliwangi dengan naritah deui nyembah berhala, ‘menyuruh lagi menyembah berhala’. Berhala yang dimaksud adalah berhala demokrasi dan pemikiran-pemikiran kapitalis dengan slogan suara rakyat suara Tuhan. Brengsek benar mereka, slogan itu sesungguhnya tidak masuk akal dan tidak masuk ilmu pengetahuan!

Anak-anak muda salah pergaulan. Tak hormat lagi kepada yang lebih tua. Rasa malu sudah hampir sirna. Derajat manusia pun semakin rendah. Hal itu disebabkan berhala demokrasi tadi yang memberikan ruang terlalu besar untuk hidup terlalu bebas tanpa aturan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan manusia. Pemerintah pun mengamini kebebasan itu. Tak bisa berbuat apa-apa meskipun hatinya tahu bahwa hal itu tidak benar.

Hukum dan aturan hanya ada di mulut dan diskusi-diskusi kosong di berbagai media dan beragam seminar tanpa bisa ditegakkan dengan benar. Hal itu disebabkan dalam alam demokrasi hampir setiap penguasa, setiap pejabat memiliki keterkaitan hutang-piutang dengan pihak lain, baik itu bernilai materi maupun nonmateri.

Dengan keadaan yang demikian itu, sudah pasti rakyat tetap saja dalam keadaan susah bahkan terus meluncur ke arah kesusahan yang lebih mengerikan. Untuk bisa makan saja, sulit bukan main. Masih beruntung kalau ada yang meminjami uang untuk makan. Kalau tidak, bakal kelaparan karena dapurnya tidak ngebul.

Dalam akhir paragraf tersebut, Prabu Siliwangi memberikan penerangan bahwa yang salah adalah rakyat-rakyat juga yang ikut pesta demokrasi dengan memilih para pendusta, koruptor, pengkhianat, pengingkar janji, dan tidak ahli dalam bidangnya. Rakyat telah tertipu dengan janji manis demokrasi dan terus berada dalam ketertipuannya. Menyedihkan memang. Demokrasi itu lingkaran syetan yang telah berputar sempurna sehingga rakyat yang susah itulah yang dipersalahkan karena telah mendukung sistem politik yang kampungan dan hina itu.

Sang Prabu pun menegaskan bahwa orang-orang pintar itu banyak, tetapi pintarnya keblinger. Orang-orang pintar itu tidak menggunakan kepintarannya untuk kemuliaan manusia dan kemanusiaan, tetapi sama dengan binatang, yaitu sekedar untuk mencari makan dan berupaya untuk hidup lebih mewah.

Itulah kejahatan demokrasi dalam gambaran Uga Wangsit Siliwangi. Jika di antara pembaca ada yang menolak tulisan ini, sebutkan di mana kesalahannya. Toh, itu semua memang terjadi bukan?

Kerusakan negara akibat demokrasi bukan hanya itu. Prabu Siliwangi pun menjelaskan lebih lanjut.

Dalam bahasa Sunda.

Buta-buta nu baruta. Mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Dalam bahasa Indonesia.

Raksasa-raksasa yang beringas semakin hari semakin bandel, sombong, pongah, brutal, dan sewenang-wenang melebihi kerbau bule. Mereka tidak sadar bahwa zaman manusia sudah dikuasai binatang!

Bukankah ini merupakan kenyataan pula?

Di saat saudara-saudara kita kesusahan, kelaparan, dan diderita bencana alam mengerikan, raksasa-raksasa itu malah pergi ke luar negeri. Tak ada rasa empati. Membangun gedung-gedung megah. Terus menghamburkan uang untuk kepentingan politiknya. Berkelit dari segala tuduhan hukum meskipun sudah jelas-jelas salah. Mereka tetap masih berdasi mengendarai mobil-mobil mewah dalam keadaan bersalah, sementara rakyat kecil yang terkait hukum mendekam berkepanjangan dalam buian, padahal belum tentu bersalah. Benar kata Prabu Siliwangi bahwa banyak penguasa yang kelakuannya sudah melebihi kerbau bule, melebihi penjajah asing berkulit putih itu. Kita sebenarnya lebih menderita dibandingkan penjajahan Belanda dulu. Mereka tidak sadar dan rakyat pun banyak yang tidak sadar bahwa zaman ini adalah zamannya negeri dikuasai para binatang!

Hentikan demokrasi! Ubah sistem dan struktur politik sesuai dengan jati diri dan jiwa bangsa dengan melalui rekam jejak para leluhur kita.