Thursday, March 2, 2017

Kristen dan Cina Dilarang Masuk!

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy, Banten, Indonesia, memang dikenal sebagai suku yang ekslusif dan tidak mudah tergoda oleh rayuan pembaharuan dan pembangunan. Mereka memiliki wilayah-wilayah yang dilarang dimasuki oleh orang lain, bahkan oleh warga mereka sendiri.

            Mereka bilang, “Pamali”

            Mereka memiliki wilayah atau tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orang beragama Kristen dan ras Cina. Sebagaimana yang dikatakan Prof. Garna (1991), wilayah itu dilarang dimasuki oleh Karesten jeung Cina.

            Dalam artikelnya, Garna tidak menjelaskan mengapa Kristen dan Cina dilarang begitu keras untuk memasuki wilayah tertentu. Tak ada keterangan apa pun yang dapat membuat kita mengerti tentang larangan itu.

            Hal itu membuat saya menduga-duga bahwa larangan itu diakibatkan oleh dua hal besar, yaitu keyakinan dan perilaku/habit dari orang Kristen dan Cina dalam pengalaman hidup orang Baduy.

            Keyakinan Kristen yang berupa trinitas atau “Tuhan satu dalam tiga dan tiga dalam satu” sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Demikian pula, keyakinan bangsa Cina yang tidak sedikit mengisahkan banyak dewa juga sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Kedua keyakinan itu jika masuk ke dalam wilayah Baduy dikhawatirkan akan mengganggu keharmonisan Suku Baduy. Keyakinan Suku Baduy sendiri sangat dekat dengan ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw. Bahkan, Sunda Wiwitan adalah agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Prabu Siliwangi as. Oleh sebab  itu, orang-orang Islam, terutama yang bersuku Sunda, lebih bisa masuk secara akrab dan mesra dengan warga Baduy, Kanekes. Sunda Wiwitan hanya mengakui Tuhan Yang Tunggal, yaitu Sanghyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Sanghyang Wujud (Tuhan Yang Memiliki Wujud), Sanghyang Kersa (Tuhan Yang Maha Berkehendak), Sanghyang Jatiniskala (Tuhan Yang Tidak Bisa Dibayangkan Bentuk-Nya), Sanghyang Cipta Rasa (Tuhan Yang Menciptakan Rasa), Sanghyang Jatiraga (Tuhan Yang Memiliki Keaslian dan Kekekalan Raga), dan lain sebagainya yang semuanya itu menuju pada Zat Allah swt dalam bahasa Arab.

            Hal itu pun menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi as adalah bukan beragama Hindu atau Budha Tantra. Prabu Siliwangi adalah Nabi as, kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan Islam dengan syariat yang disesuaikan situasi dan kondisi saat itu. Di samping itu, menegaskan pula bahwa “tidak ada jejak Hindu dan Budha” di dalam sejarah Tanah Sunda.

            Perilaku dan habit orang Kristen dan Cina pun kemungkinan menjadi dasar dari pelarangan masuk bagi Karesten jeung Cina ke wilayah tertentu di lingkungan warga Kanekes, Suku Baduy. Sebagaimana kita ketahui bahwa masuknya Kristen ke Indonesia hampir bisa dikatakan berbarengan dengan dimulainya awal kolonialisme yang dibawa oleh pasukan Barat. Apabila kita berbicara tentang kolonialisme atau penjajahan, tak ada habisnya diisi oleh perilaku angkuh, sok berkuasa, suka melecehkan, dan melakukan berbagai kekejian terhadap warga pribumi. Orang Baduy jelas tidak menyukai hal itu.

            Hal yang menarik adalah justru pengalaman orang Sunda dengan Cina. Pelarangan masuknya ras Cina kemungkinan besar diakibatkan oleh masa lalu ketika bangsa Indonesia hidup dengan sangat makmur dan kaya raya. Setelah Nabi Prabu Siliwangi as dipercaya Allah swt untuk menanam bibit padi yang pertama di muka Bumi, rakyat Sundaland sangat kaya raya berlimpah ruah pangan dan harta benda. Di dalam naskah tentang penanaman bibit padi yang pertama itu ada larangan dari Allah swt bahwa padi atau beras tidak boleh diperjualbelikan karena padi adalah makanan terlezat dan penuh berkah bagi semua manusia dan hanya boleh dimanfaatkan untuk darma bakti pada kemanusiaan. Sayangnya, setelah masa kenabian Prabu Siliwangi as berakhir dan berlanjut ke beberapa generasi berikutnya, ada saudagar Cina yang ingin membeli beras. Bertahun-tahun keinginan bangsa Cina itu tidak pernah menjadi kenyataan karena selalu ditolak. Padi dan beras hanya untuk dimakan tanpa boleh diperjualbelikan. Akan tetapi, ras Cina memang tidak pernah menyerah. Dengan segala rayuannya, entah dengan cara apa mereka memelas, ada Permaisuri Kerajaan Sunda yang terbujuk rayu, lalu terjadilah transaksi jual beli padi atau beras pertama di dunia.

            Jual beli yang dilarang Allah swt itu jelas menimbulkan turunnya hukuman Allah swt. Hukuman itu berupa laki-laki harus bekerja keras dua kali lipat untuk mendapatkan penghasilan yang sama dibandingkan masa lalu serta perempuan harus ikut pula bekerja keras untuk membantu kaum laki-laki. Tampaknya, hukuman itu berlanjut hingga hari ini. Semua orang harus kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, pada masa lalu kaum laki-laki hanya cukup kerja ringan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kaum perempuan tidak perlu ikut bekerja membantu para lelaki, tetapi cukup bersolek dan menerima hasil kerja lelaki di rumah dan di tempat-tempat yang menyenangkan, seperti, di taman, air terjun, sungai, pendopo, atau kaputren.

            Kisah itu saya dapatkan dari Proceedings: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi yang disusun oleh V. Sukanda Tesier dan  Hasan Muarif Ambary yang diterbitkan oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1991.

            Kemungkinan itulah yang menjadikan Suku Baduy melarang ras Cina untuk memasuki wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai mereka. Saudagar Cina telah berhasil merayu Permaisuri untuk membeli beras yang berakibat turunnya hukuman.

            Apabila kita hubungkan dengan hadits-hadits yang mengisahkan keadaan akhir zaman ketika Imam Mahdi memegang tampuk kekuasaan dunia, sangat mungkin bahwa larangan jual beli padi dan beras ini diberlakukan kembali hingga kaum laki-laki tidak perlu bekerja terlalu keras dan perempuan selalu mempercantik dirinya tanpa perlu ikut membantu kaum lelaki. Hal itu disebabkan ketika Imam Mahdi berkuasa diberitakan bahwa keadilan tercipta di seluruh dunia dan kemakmuran menjadi milik semua manusia, bahkan jika ada seseorang yang meminta sesuatu kepada orang lain, orang lain itu dengan segera memberikannya dengan rela hati. Tak ada yang pelit karena semuanya tercukupi.

            Hanya Allah swt yang tahu keadaan semua ciptaan-Nya dari awal hingga akhir.


Menciptakan Hubungan Baik Baru
Larangan untuk Kristen dan Cina memasuki wilayah-wilayah tertentu di Baduy bukan berarti sama sekali tidak bisa diubah. Apabila dugaan saya benar bahwa larangan itu berasal dari “keyakinan yang berbeda dan perilaku yang tidak disukai”, larangan itu bisa menjadi longgar dengan cara menunjukkan diri bahwa orang Kristen yang sekarang bukanlah penjajah yang merusakkan kehidupan, melainkan sama-sama warga Indonesia yang berkewajiban untuk sama-sama menjalin persaudaraan di antara sesama warga bangsa serta bersenang hati untuk saling membantu. Demikian pula dengan ras Cina atau keturunan Tionghoa harus menunjukkan diri bahwa kita semua adalah saudara sesama warga bangsa dan sesama manusia yang tidak ingin saling berupaya menguasai, bahkan bersedia bersama-sama untuk menjalankan ajaran Nabi Prabu Siliwangi as, yaitu silih asih, silih asuh, silih asah, ‘saling mengasihi, saling melindungi, saling mencerdaskan’.

            Berhubungan baik dengan warga Baduy akan memiliki manfaat yang banyak, baik untuk penelitian maupun untuk kehidupan sosial. Warga di luar Baduy-lah yang harus terlebih dahulu menunjukkan sikap yang positif karena warga Baduy tidak akan berubah sebelum mereka percaya kepada orang-orang di luar mereka.

            Wallaahualam


            Sampurasun

Thursday, February 16, 2017

Para Saksi Kehancuran Indonesia

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Bukan kehancuran Indonesia yang sekarang yang saya maksudkan, melainkan Indonesia yang dulu sebelum namanya bukan Indonesia ketika masih merupakan daratan Sundaland. Masa depan Indonesia yang sekarang masih belum diketahui apakah akan hancur atau bertambah mulia. Meskipun menjadi mulia dan besar, pada akhirnya akan hancur juga oleh kiamat karena semuanya ada waktu berakhirnya. Segala sesuatu yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Satu-satunya zat yang tidak berawal dan tidak berakhir hanyalah Allah swt. Oleh sebab itu, Allah swt tidak akan pernah hancur. Tugas kita sekarang adalah menjadikan Indonesia mulia dan besar sehingga rakyatnya pun menjadi mulia dan besar.

            Dulu, ketika Indonesia masih berupa Benua Sundaland, rakyat dan kerajaan-kerajaannya teramat makmur, mudah sandang, murah pangan, dan ketinggian teknologinya tak ada bandingannya di dunia ini. Bangunan-bangunan megah seperti di Gunung Padang dan ratusan, bahkan ribuan candi dibangun dengan sangat teliti dan rumit sehingga orang-orang sekarang pun tak memiliki kemampuan untuk menjelaskan bagaimana bangunan-bangunan megah itu bisa berdiri kokoh dan indah tiada tara. Di samping itu, makanan tidak pernah kekurangan, semua orang hidup dalam keadaan kaya raya dengan segala perhiasan-perhiasan dunianya. Akan tetapi, sayangnya, manusia memang kerap lupa dan menjadi serakah, tak pernah puas dengan apa yang telah didapatnya. Banyak manusia yang selalu ingin lebih dan lebih lagi. Ketika keinginannya untuk menjadi lebih kaya raya tidak terpenuhi dan doanya tidak dikabulkan Allah swt, mereka pun kecewa. Kekecewaan mereka pun mengubah sikap dan keyakinan hidup mereka kepada Allah swt. Mereka mencari sesembahan lain yang dianggap mampu memuaskan keinginan mereka. Akibatnya, mereka menjadi kafir dan bersahabat erat dengan Iblis Laknatulllah. Ketika kekafiran mereka menjadi-jadi dan meninggalkan ajaran para nabi, seperti, Nabi Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya, Allah swt pun murka dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya sehingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping menjadi kepulauan seperti yang sekarang ini bernama Indonesia.

“… Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS 34 : 17)


Mereka yang Selamat Menjadi Saksi Kehancuran
Ketika Allah swt menghancurkan Benua Sundaland dengan sangat dahsyat yang menurut Plato, filsuf Barat, terjadi dalam satu hari, orang-orang Indonesia pun berlarian ketakutan kesana-kemari tak tentu arah, bingung dan cemas, para ibu meninggalkan bayi yang sedang disusuinya, terjadi kerusakan dalam organ-organ tubuh akibat getaran dan kepanikan luar biasa, serta sebagian kabur ke berbagai penjuru dunia. Bencana dahsyat itu benar-benar mengerikan dan sampai hari ini belum ada lagi bencana sesadis itu. Saking dahsyatnya, orang-orang sombong dan angkuh pun hancur lebur, baik fisik maupun jiwanya.

            Beberapa dari mereka yang kafir, tetapi tidak terlalu kafir diselamatkan Allah swt dari bencana spektakuler itu. Namun, mereka mulai gila dan kehilangan akal, tak jelas lagi pandangan dan arah hidup mereka. Allah swt tahu itu semua, kemudian menyelamatkan jiwa dan pikiran mereka serta kembali menenangkan mereka agar pikiran mereka dapat kembali lurus dan menyadari berbagai kesalahan dan kebodohan yang telah diperbuat mereka.

            “Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar,’ dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS 34 : 23)

            Orang-orang ini sadar atas kesalahan dirinya yang telah melupakan ajaran para nabi terdahulu. Mereka menyadari bahwa peringatan-peringatan dan ancaman-ancaman dari para nabi terdahulu adalah kebenaran dan bukan kebohongan karena mereka telah mengalaminya sendiri. Merekalah para saksi atas hancurnya Benua Sundaland sehingga menjadi kepulauan seperti sekarang ini.

            Beberapa dari mereka memulai kembali membangun perkampungan dengan menjaga setiap nasihat-nasihat leluhur mereka yang berasal dari para nabi terdahulu. Mereka bertahap membangun kerajaan-kerajaan kecil pada berbagai pulau dan tetap menjadikan ajaran para nabi mereka sebagi panduan. Begitulah kearifan lokal mulai terjadi. Sebagian lagi memilih untuk menjauhi kehidupan dunia karena saking takutnya kepada Allah swt yang bisa kapan saja menjatuhkan bencana dahsyat atas kekafiran mereka. Merekalah orang-orang yang anti pembaharuan, anti pembangunan, dan anti perubahan. Mereka tetap kuat dalam adat mereka dan tidak ingin berubah, bahkan menolak siapa pun dan apa pun yang dapat mengubah keyakinan dan cara hidup mereka. Mereka tidak peduli dengan perkembangan dan modernisasi. Mereka hanya peduli pada kehidupan spiritual dan menjaga diri agar Allah swt tidak lagi menjatuhkan bencana yang sangat dahsyat.

            Salah satu yang tidak menginginkan perubahan drastis dan menolak apa pun yang menurut anggapan mereka bisa membawa kerusakan adalah warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy. Mereka benar-benar selektif atas hal-hal yang datang dari luar diri mereka. Mereka tak ingin diganggu dan tidak ingin berubah. Leluhur mereka secara turun-temurun mengingatkan bahaya apabila meninggalkan berbagai peribadatan kepada Allah swt. Leluhur mereka benar-benar mengalami bagaimana perubahan keyakinan dan kemunkaran mengakibatkan kehancuran luar biasa. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk tidak meninggalkan peribadatan dan pengabdian kepada Allah swt dengan cara mereka sendiri sesuai syariat yang kemungkinan besar berasal dari Nabi Prabu Siliwangi as. Hal itu disebabkan mereka meyakini adanya Buana Larang, Buana Tengah, dan Buana Nyungcung.

            Apabila sampai meninggalkan adat dan keyakinan leluhur, mereka sangat takut Allah swt akan menimpakan azab seperti yang sudah-sudah, bahkan lebih besar. Hal ini sebagaimana yang dikatakan mereka sendiri.

            Ti meletuk datang ka meletek, ti segir datang ka segir deui. Lamun dirobah buyut kami lamun hujan liwat ti langkung lamun halodo liwat ti langkung. Tengsetna lamun buyut kami dipaksa dirobah cadas malela jadi tiis, buana larang buana tengah buana nyungcung pinuh ku sagara (Judistira Garna, 1991, Masyarakat Baduy dan Siliwangi [Menurut Anggapan Orang-Orang Baduy Masa Kini]).

            Apabila kita terjemahkan secara bebas, perkataan orang Baduy itu kira-kira akan seperti berikut.

            Dari subuh sampai subuh lagi, dari musim hujan sampai musim hujan lagi, dari musim kemarau sampai kemarau lagi, kami tidak akan berubah. Pendek kata, kalau keyakinan dan kebiasaan kami diubah, batu cadas dan hutan tidak akan lagi bermanfaat, seluruh dunia nyata dan dunia gaib akan dibanjiri lautan.

            Hal yang membuat saya sangat tertarik adalah kata-kata terakhir dalam kalimat mereka, yaitu “… pinuh ku sagara”, artinya “… dibanjiri lautan.”

            Mengapa mereka mengatakan bahwa azabnya itu adalah dibanjiri lautan?

            Mengapa bukan azab berupa angin puyuh puting beliung topan tornado?

            Mengapa bukan kehancuran akibat kebakaran hutan yang sangat masif atau bencana lainnya?

            Hal itu menunjukkan bahwa leluhur mereka memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan bencana banjir yang meluap dari lautan lepas hingga menenggelamkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Hal itu pun mengisyaratkan bahwa memang Benua Sundaland itu adalah tempat yang sangat makmur dan hebat yang disebut-sebut orang sebagai Atlantis sebagaimana yang dikisahkan oleh Plato. Sayangnya, Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia dan sekitarnya itu harus hancur berkeping-keping, bagai bubuk roti yang disebarkan hingga berupa kepulauan seperti sekarang ini. Hal itu disebabkan oleh kemarahan Allah swt akibat kedurhakaan dan keserakahan penduduknya yang keterlaluan hingga meninggalkan segala peribadatan dan mengalihkan keimanan mereka kepada Iblis Laknatullah, padahal Allah swt telah menjadikan penduduk Benua Sundaland adalah manusia paling unggul di muka Bumi.

            “Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin.” (QS 34 : 20)

            “… mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.” (QS 34 : 45)

            Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa jika kita mengingkari Allah swt dan tak ada lagi orang yang mampu menjaga syariat Allah swt untuk tetap dalam kebenaran sehingga menganggap bahwa dosa-dosa mereka sebagai hal yang benar, Allah swt akan benar-benar menjatuhkan hukuman yang teramat berat dan mengerikan.

            “… Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

            Jaga diri dan perbuatan kita untuk tidak membuat murka Allah swt agar tak lagi mendapatkan azab sebagaimana yang telah disaksikan oleh leluhur Suku Baduy, warga Kanekes, Banten, Indonesia.


Tak Ada Jejak Hindu-Budha di Tanah Sunda

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri yang masih mengatakan bahwa Hindu dan Budha pernah mempengaruhi hidup orang Sunda. Bahkan, Prabu Siliwangi as pun disebutnya kalau tidak beragama Hindu, ya beragama Budha. Sesungguhnya, Prabu Siliwangi adalah nabi kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan tauhid di Benua Sundaland. Agamanya disebut Sunda Wiwitan. Agama itu adalah Agama Islam pra-Muhammad saw.

            Saya sebagai orang Sunda sama sekali tidak pernah menemukan satu orang pun atau sekeluarga pun yang menyimpan kitab Hindu atau Budha sebagai kitab yang pernah dijadikan pegangan hidup. Demikian pula, orang Sunda tidak pernah berperilaku atau berkata-kata sebagaimana orang yang pernah dipengaruhi Hindu atau Budha. Kedua agama itu tidak ada jejak sama sekali di Tanah Sunda. Agama Sunda Wiwitan jauh sekali perbedaannya dibandingkan Agama Hindu atau Budha. Agama Sunda Wiwitan malahan lebih dekat pada ajaran Islam Muhammad saw dalam hampir semua hal.

            Agama Sunda Wiwitan langsung dengan mudah melebur ke dalam Agama Islam. Hal itu disebabkan Agama Sunda Wiwitan adalah Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as, kemudian disempurnakan oleh Islam yang dibawa Muhammad saw.

            Hal ini bisa dilihat dari dongeng-dongeng lisan masyarakat Sunda yang sangat akrab dengan masyarakat Arab. Para raja Sunda kerap datang ke tanah Arab dan menikah dengan puteri raja-raja di sana. Para Pangeran Sunda pun menikahi puteri-puteri Arab dan Mesir. Terkadang pula raja-raja dan pangeran Arab atau Mesir mendatangi tanah Sunda, lalu menikahi puteri-puteri kerajaan Sunda. Hasil pernikahan mereka melahirkan para wali dan syekh yang kemudian membangun kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

            Tak pernah ada kisah yang sangat akrab dengan raja-raja atau keluarga istana India. Tak ada dongeng yang mengisahkan adanya pernikahan ataupun persekutuan antara kerajaan Sunda dengan kerajaan-kerajaan di India. Hal itu menunjukkan bahwa sama sekali tidak pernah ada pengaruh Hindu dan Budha di tanah Sunda. Kalau Hindu atau Budha memiliki pengaruh di tanah Sunda, harus ada kisah ataupun sejarah mengenai keakraban atau konflik antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan India.

            Bagaimana dengan pewayangan?

            Bukankah itu pengaruh dari India?

            Bukan!

            Kisah-kisah pewayangan bukanlah berasal dari India. Kisah pewayangan itu lahir di Indonesia dan merupakan kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Kisah ini tersebar di seluruh tanah kekuasaan Kerajaan Sunda. Dalam peta yang dibuat Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, Kerajaan Sunda itu meliputi wilayah yang teramat luas dan India saat itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. India hanyalah sebuah kadipaten dari Kerajaan Sunda. Kisah pewayangan ini mengalir ke India dan menarik masyarakat India. Bukan hanya kisah pewayangan yang diadopsi, melainkan sistem penanggalan India pun mengikuti sistem penanggalan Sunda. Dalam Konferensi Internasional Budaya Sunda II di Gedung Merdeka, Bandung, yang saya diundang menjadi pesertanya, sebagai wakil dari Yayasan Al Ghifari, dijelaskan bahwa kalender India sama persis dengan kalender Sunda karena India mengikuti sistem Sunda.

            Tak ada pengaruh Hindu dan Budha di tanah Sunda. Pengaruh sangat besar justru berasal dari Arab karena kesamaan keyakinan. Misalnya, dongeng Kian Santang dan Walangsungsang yang datang ke Mekah, lalu dibalas oleh kunjungan Nabi Muhammad saw ke Garut di daerah Kadungora dan Leuwigoong. Pesan dongeng itu jelas sekali bahwa ajaran Islam dari tanah Arab itu sangat direstui untuk menyempurnakan agama Sunda Wiwitan yang merupakan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as.

            Dongeng-dongeng lisan di tanah Sunda yang akrab dengan Arab memiliki campuran antara kenyataan, khayalan, dan uga (prediksi atau ramalan masa depan). Oleh sebab itu, cukup rumit memisahkan mana yang kenyataan sejarah, mana yang khayalan, dan mana yang merupakan prediksi masa depan.

            Kerajaan-kerajaan di Indonesia ini pada masa lalu merupakan kerajaan-kerajaan kuat dan besar, misalnya, Pajajaran, Majapahit, Singosari, Perlak, Samudera Pasai, dan lain sebagainya. Mereka dikenal sebagai para pelaut ulung yang mampu berlayar ke seluruh dunia sehingga terjalin bisnis yang kuat dan sangat menguntungkan dengan berbagai negara di dunia, termasuk dengan Eropa, Cina, dan Arab. Kehebatan orang Indonesia dalam mengarungi samudera ini diabadikan dalam lagu yang kita kenal dengan judul Nenek Moyangku Seorang Pelaut.

            Dalam petualangan dan pelayarannya ke berbagai negeri, tentunya mengalami berbagai interaksi dan komunikasi dengan wilayah-wilayah yang pernah dikunjunginya dalam berbisnis. Pengalaman para petualang dan tokoh Sunda ke daerah Arab ini memunculkan pula kisah yang sangat mungkin merupakan kenyataan sejarah. Kisah ini lagi-lagi memperlihatkan bagaimana akrabnya Sunda dengan Arab.

            Wahyu Wibisana dalam Pengislaman Prabu Siliwangi sebagai Pelengkap Kehadiran Tokoh Ceritera Siliwangi dalam Ceritera-Ceritera Rakyat Jawa Barat (1991) mengisyaratkan bahwa sudah terjadi hubungan yang sangat akrab antara orang Sunda dengan Arab jauh sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Ia menuturkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw baru berusia tujuh hari, menangis terus-menerus dan tidak mau berhenti meskipun telah dibujuk oleh siapa pun. Muhammad saw kecil baru berhenti menangis ketika orang Sunda yang bernama Syekh Batara Galunggung menghiburnya dengan cara memberikan kolecer kepada Nabi Muhammad saw. Kolecer itu kincir yang terbuat dari kertas yang jika ditiup akan berputar-putar lucu. Kolecer saat ini merupakan kerajinan tangan ringan yang diajarkan oleh guru-guru TK di Indonesia.

            Hal ini jika ditelusuri lebih teliti, sangat mungkin menjadi sejarah bernilai ilmiah mengingat kehebatan para pelaut Indonesia pada masa kejayaan berbagai kerajaannya mampu berdagang ke berbagai penjuru dunia. Ketika berada di negeri orang, tentu saja mereka berinteraksi dalam waktu yang cukup panjang hingga satu atau dua bulan menunggu urusan bisnis rampung. Ketika sampai di tanah Arab, mereka pun sampai ke Mekah dan mengenal keluarga Nabi Muhammad saw.

            Ketika Nabi Muhammad saw sudah dewasa, sejak sebelum menjadi nabi maupun sesudah menjadi nabi, beberapa kali datang ke Indonesia dengan tujuan yang sama, yaitu berdagang sejak menjadi pesuruh Siti Khadijah ra. Bahkan, ada naskah Sunda kuno yang mengisahkan bahwa rombongan dari tanah Arab datang ke tanah Sunda dipimpin oleh Abu Jahal untuk berbisnis. Di dalam rombongan itu, terdapat Muhammad saw dan Abu Bakar ra. Ketika berada di tanah Sunda, rombongan itu keluar masuk hutan dan mengalami beberapa kali kesulitan karena tersesat dan kerap diganggu harimau. Oleh sebab itu, Abu Bakar mengusulkan agar Muhammad saw diberi kesempatan untuk memimpin rombongan. Setelah pemimpin rombongan diganti oleh Muhammad saw, perjalanan pun menjadi lancar dan harimau tak mau mengganggu lagi. Ketika Muhammad saw telah menjadi nabi pun, tetap datang ke tanah Sunda untuk mengajarkan agama dan mendirikan beberapa masjid.

            Lagi-lagi informasi dari naskah-naskah ini jika diteliti lagi lebih mendalam, dapat menjadi bernilai kenyataan sejarah. Hal itu disebabkan sangat mungkin terjadi interaksi yang akrab antara tanah Sunda dan tanah Arab sebelum dan sesudah Muhammad saw menjadi nabi. Hal ini bisa dilihat dari hadits-hadits yang mengharuskan penggunaan kapur barus untuk pengurusan jenazah. Kapur barus itu didapatkan dari Pulau Jawa, Indonesia karena di Mekah, Medinah, maupun Jeddah tidak memiliki wilayah yang bisa menghasilkan kapur barus. Di samping itu, di dalam Al Quran pun banyak ayat yang menerangkan tentang keadaan laut, pelayaran, para pelaut, dan hutan dengan segala keistimewaannya. Hal itu mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah berulang kali melakukan pelayaran dan keluar masuk hutan. Sangat mungkin pelayaran itu ke tanah Sunda dan hutannya pun hutan yang berada di wilayah Sunda.

            Memangnya di Mekah sebelah mana yang ada hutannya?

            Di Medinah atau Jeddah yang mana yang wilayahnya ada hutan?

            Dengan melihat dan mendengar berbagai kisah yang akrab antara tanah Arab dan tanah Sunda, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama Sunda Wiwitan sangat terbuka untuk disempurnakan oleh Agama Islam. Dengan tidak adanya keakraban antara tanah Sunda dengan tanah India, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama Hindu dan Agama Budha tidak pernah memberikan pengaruh apa pun bagi masyarakat Sunda.

            Sampurasun.

Thursday, February 9, 2017

Asal Mula Suku Baduy

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Masyarakat Baduy sebenarnya sangat tidak suka disebut “Baduy” karena kata Baduy berasal dari istilah orang-orang Belanda kolonial kepada mereka. Belanda menyebut mereka baduy karena menyamakan mereka dengan orang Arab “Badwi” yang tinggal di tenda-tenda dan hidup secara nomaden, berpindah-pindah tanpa tempat tinggal yang tetap. Sebutan itu sangat salah karena orang Baduy tidak tinggal di tenda-tenda dan tidak nomaden. Orang Baduy memiliki tempat tinggal yang tetap dan tanah yang juga tetap. Orang-orang ini sebenarnya lebih senang disebut sebagai orang “Kanekes” karena memang mereka adalah warga Kanekes.

           Dari zaman ke zaman sudah ratusan peneliti yang mencoba mencari tahu dari mana orang-orang Kanekes ini berasal dan bagaimana terbentuknya cara-cara hidup mereka yang sangat kuat memegang adat leluhur. Setiap ada peneliti yang mendapatkan kesimpulan tentang asal mula Baduy, orang-orang Kanekes ini selalu kesal, jengkel, dan marah karena menganggap bahwa hasil penelitian para peneliti itu salah dan selalu salah.

            Salah seorang dari mereka berkata keras, “Kami ti baheula ge geus aya di dieu. Ti jaman Nabi Adam ge kami mah geus di dieu!”

            Artinya, “Kami dari dulu juga sudah ada di sini. Sejak zaman Nabi Adam juga kami sudah berada di sini!”

            Hasil para peneliti itu, baik dari dalam maupun dari luar negeri selalu dibantah karena terkesan menyudutkan mereka, seperti menyebut mereka adalah berasal dari orang-orang Sunda yang kalah perang, lalu lari dan sembunyi di tempatnya sekarang dari kejaran musuhnya yang telah menghancurkan Kerajaan Sunda.

            Saya sendiri lebih percaya kepada kata-kata orang Baduy sendiri bahwa mereka sejak dulu juga sudah berada di tempat itu. Mereka memiliki nenek moyang sendiri yang diciptakan Allah swt sebagai Suku Sunda. Orang Sunda memiliki pasangan suami istri khusus yang melahirkan Suku Sunda. Di wilayah mereka ada lokasi yang ditandai batu yang merupakan tempat sepasang suami istri itu diciptakan Allah swt.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa memang Allah swt menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan karakteristik masing-masing serta kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional juga yang masing-masing. Manusia diciptakan berbeda secara fisik, mental, intelektual, emosional, dan spiritual. Hal  itu dimaksudkan Allah swt untuk saling mengenal sehingga dapat saling belajar, saling mengisi, dan saling membantu dalam menyempurnakan hidup dan kehidupan yang diciptakan Allah swt.

            Orang Jawa, Minang, Batak, Papua, dan seluruh suku bangsa di dunia ini memiliki leluhur masing-masing, memiliki sepasang suami istri masing-masing yang merupakan awal dari suku bangsa itu. Di wilayah setiap suku ada tempat yang merupakan lokasi bagi Allah swt dalam menciptakan pasangan awal suami istri yang melahirkan suku bangsa mereka. Dari pasangan awal itulah lahir suku bangsanya yang khas dengan segala karakteristiknya sesuai dengan kehendak Allah swt.


Bagaimana dengan Adam as?
Perdebatan dan diskusi mengenai Nabi Adam as adalah manusia pertama atau bukan, sudah terlalu sering dan berlarut-larut sampai hari ini. Saya sendiri sering terlibat diskusi dan perdebatan itu hingga berminggu-minggu. Hasilnya, selalu saja mereka yang berpendapat bahwa Adam as adalah manusia pertama tidak pernah bisa menjawab berbagai pertanyaan yang “menjungkirkan” keyakinan bahwa Adam as adalah manusia pertama.

            Saya sendiri berpendapat bahwa Nabi Adam as adalah BUKAN MANUSIA PERTAMA. Akan tetapi, Nabi Adam as adalah nabi pertama, manusia beradab pertama, dan manusia yang diberi wahyu pertama oleh Allah swt sehingga diangkat menjadi khalifah di muka Bumi.

            Nabi Adam as adalah laki-laki pertama dan Siti Hawa adalah perempuan pertama yang kemudian melahirkan suku bangsanya sendiri dengan karakteristiknya sendiri pula. Nabi Adam as bukan manusia pertama, melainkan nabi pertama dan manusia beradab pertama karena diberi wahyu yang berupa tuntunan dari Allah swt untuk mencapai kehidupan yang sempurna.

            Apalagi jika kita baca Ensiklopedia Islam yang menuliskan bahwa ada salah seorang anak dari Nabi Adam as yang bermasalah dengan sebuah kerajaan, bahkan sampai ditangkap oleh rajanya.

            Raja yang menangkap anak Nabi Adam as itu turunan dari mana kalau memang Adam as adalah manusia pertama?

            Adam as bukanlah manusia pertama.

            Kalau masih ngotot meyakini bahwa Adam as adalah manusia pertama, coba jawab pertanyaan saya ini.

            Ada berapa ratus bahasa yang ada di dunia ini?

            Nabi Adam as menggunakan bahasa apa ketika berkomunikasi?

            Mengapa manusia tiba-tiba memiliki bahasa masing-masing?

            Mengapa tidak menggunakan bahasa Nabi Adam as? Bukankah seluruh manusia adalah keturunan Adam as?

            Ada masalah apa antara Adam as dengan keturunannya sehingga saking bencinya sampai-sampai harus meninggalkan bahasa Adam as?

            Malah, bukan hanya bahasa yang berbeda, hurufnya pun berbeda. Ada huruf Sunda, Jawa, Arab, Jepang, Cina, Yunani, dan lain sebagainya.

            Siapa orangnya yang pertama kali membenci Adam as sehingga tidak sudi lagi menggunakan bahasa Adam as?

            Hayo jawab.

            Saya sangat berterima kasih jika ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

            Kalau tidak ada yang bisa menjawab, berarti memang Adam as bukanlah manusia pertama. Allah swt menciptakan kita berasal dari sepasang suami istri tertentu yang melahirkan sebuah suku bangsa tertentu dengan karakteristik masing-masing. Begitulah yang saya pahami dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            Allah swt menciptakan kita berbeda sesuai dengan karakteristik alam yang berbeda sehingga kita bisa saling mengenal, saling memberi, saling mengisi, dan saling membantu di antara sesama manusia. Bukan sebaliknya, saling ingin menguasai, saling ingin merampok, saling ingin menjatuhkan, saling ingin berada paling tinggi di atas yang lainnya, atau saling ingin berjaya dengan merendahkan manusia yang lainnya.

            Begitulah maksud Allah swt menciptakan kita berbeda-beda. Kita diciptakan berbeda, tetapi dengan maksud yang sama.

            Jadi, asal mula orang Baduy adalah berasal dari sepasang suami istri yang kemudian menjadi awal terbentuknya Suku Sunda dengan karakteristiknya yang khas, dengan mental tertentu, kecerdasan tertentu, kemampuan spiritual tertentu, serta tingkat emosi yang khusus pula. Lokasi penciptaan pasangan suami isteri pertama itu adalah di tempat yang ditunjukkan oleh orang Baduy sendiri. Bukan hanya Suku Sunda yang diciptakan seperti itu, melainkan semua suku di dunia ini pun diciptakan dengan cara seperti itu.


            Sampurasun

Sunday, November 13, 2016

Hade ku Basa Goreng ku Basa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Hade ku basa goreng ku basa itu pepatah Sunda yang artinya mulia oleh bahasa hina pun oleh bahasa. Maksudnya, kemuliaan dan kehinaan seseorang, sekelompok orang, suatu bangsa, suatu agama, suatu keyakinan, atau suatu negara sangat ditentukan oleh bahasa yang dipergunakan mereka. Apabila bahasa yang mereka gunakan sangat bagus, indah, mulia, sopan, mencerahkan, dan menyejukkan, mulialah mereka. Sebaliknya, apabila bahasa yang mereka gunakan kotor, buruk, dan menyakitkan hati orang lain tanpa alasan yang jelas dan dibenarkan, hinalah mereka.

            Yang dimaksud bagus berbahasa itu bukan berarti hanya lembut, baik, dan tidak menyakiti orang lain, melainkan pula memiliki dasar pengetahuan yang jelas, tujuan yang pasti, serta memberikan pencerahan dan mendamaikan kehidupan manusia. Kalaupun dengan sangat terpaksa harus menggunakan bahasa-bahasa yang keras, tujuannya tetap untuk memuliakan manusia dan kemanusiaan, bukan untuk berbohong, melindungi kebodohan, menutupi kesalahan, mengaburkan permasalahan, maupun menimbulkan huru-hara dalam kehidupan.

            Yang dimaksud buruk berbahasa itu bukan hanya kotor, kasar, dan rendah, melainkan pula memiliki maksud-maksud jahat, melecehkan orang lain, menimbulkan huru-hara, menyesatkan manusia, mengadudomba di antara manusia, menutupi kebohongan, mengajak pada kerusakan, melindungi kebodohan, menolak kebenaran, mempertahankan sifat keras kepala, melecehkan nasihat-nasihat yang bermanfaat, menganggap diri selalu paling benar, dan lain sebagainya.


Sunda Kudu Makalangan

Sunda kudu makalangan, ‘Sunda harus aktif mengelola negara’.

            Orang Sunda mesti jujur bahwa dirinya telah lama berharap untuk lebih aktif dalam mengelola negara dan tidak selalu berada di pinggir pentas perpolitikan nasional dan internasional. Pasca-kehancuran Kerajaan Sunda Pajajaran, lebih tepatnya setelah selesainya Pertempuran Talaga yang mengakibatkan musnahnya kekuatan pasukan Sunda akibat penyerangan yang dilakukan pasukan Cirebon, orang Sunda jatuh ke dalam masa Sunda Papa, ‘Sunda Sengsara’. Hal itu terbukti, orang-orang Sunda pun terpinggirkan dan hidup dalam berbagai kesengsaraan yang bertubi-tubi. Selepas masa itu, orang Sunda harus terus bersabar melakoni berbagai “uga”, ‘prediksi’ yang wajib terjadi, yaitu memasuki kehidupan masa Sunda Tunggara, ‘Sunda Menderita’. Penderitaan yang dialami orang Sunda pun bagai tak berhenti menjatuhkan harga diri dan membuat tanah kekuasaannya dikuasai bukan oleh orang-orang Sunda. Warga Sunda sendiri tersisih, miskin, merana, dan tak memiliki jalan untuk kembali berjaya. Takdir bagaikan menutup pintu bagi orang-orang Sunda untuk memperbaiki diri dan harga dirinya. Kegetiran dan kegetiran selalu menemani.

            Saya merasa bahwa dua masa itu, yaitu: Sunda Papa dan Sunda Tunggara telah terlewati. Masih ada dua masa lagi yang harus dilakoni orang Sunda, yaitu masa Sunda Tampil dan masa Sunda Makalangan. Untuk masa Sunda Tampil, saat ini sedang berlangsung. Orang Sunda sudah tampil pada berbagai bidang kehidupan, baik dalam aktivitas swasta, keamanan, maupun pemerintahan. Bahkan, banyak permasalahan pelik dan tidak bisa diselesaikan oleh orang lain, diselesaikan dengan sempurna oleh orang Sunda. Misalnya, dalam hal keamanan negara yang sulit dituntaskan, orang Sunda dapat menyelesaikannya dengan baik. Berbagai konflik sosial dan bersenjata, termasuk pemberontakan bersenjata yang terjadi di Indonesia sejak kemerdekaan, telah diselesaikan dengan baik oleh Pasukan Siliwangi. Jika pasukan ini telah bergerak, masalah konflik bersenjata pun selesai. Lihat saja catatan sejarah. Persoalan komunis, DI/TII, GAM, dan lain sebagainya diselesaikan dengan baik oleh Pasukan Siliwangi. Dalam bidang pemerintahan, banyak orang Sunda yang telah menjadi menteri dan pejabat tinggi lainnya. Bahkan, persoalan batas wilayah laut Indonesia diperjuangkan sampai berhasil oleh Otto Iskandar Dinata. Dalam  bidang keagamaan dan sosial, orang Sunda sudah tampil menjadi rujukan banyak orang untuk menyelesaikan banyak permasalahan mereka. Dalam dunia hiburan, sudah tidak diragukan lagi bahwa orang Sunda adalah mayoritas dalam jumlah artis dan aktor yang malang melintang di Indonesia ini karena memiliki anugerah kecantikan dan ketampanan yang berada di atas rata-rata. Akan tetapi, kita harus mengakui bahwa prestasi-prestasi orang Sunda itu belum cukup mendorong hidupnya untuk memasuki masa Sunda Makalangan, ‘aktif mengelola negara’.

            Orang Sunda selalu berharap segera memasuki masa itu di samping untuk membuktikan dirinya sebagai suku yang memiliki potensi dan manfaat yang besar bagi bangsa dan negara, juga berkeinginan untuk menyelesaikan berbagai masalah dan kemelut yang selalu melanda Indonesia. Tak heran banyak orang Sunda yang kerap menyandarkan harapannya pada berbagai uga dan ramalan tentang keempat masa itu, yaitu: Sunda Papa, Sunda Tunggara, Sunda Tampil, dan Sunda Makalangan. Sayangnya, banyak yang membuat syair-syair palsu yang “meninabobokan” orang Sunda hingga menjadi lemah dan hanya menyandarkan harapannya pada ramalan-ramalan palsu.

            Saya sebagai orang Sunda, eh … nggak murni-murni amat sih soal kesundaan saya. Dari garis ayah, leluhur saya tersambung sebagai orang Jawa. Kakek ayah saya namanya Minggon. Jelas nama Jawa. Bahkan, di atasnya lagi ada yang nama belakangnya Kolopaking yang mungkin dari Solo.

            Kata ayah saya, “Pokoknya leluhur kamu itu bareng berperang dengan Pangeran Diponegoro melawan Belanda.”

            Dari garis ibu lebih dekat lagi ke Suku Jawa. Nenek saya sering tertawa-tawa cekikikan jika pada sore hari mendengar dongeng dari radio dengan bahasa yang tidak pernah saya mengerti karena menggunakan bahasa Jawa. Mungkin dongeng itu dongeng jenaka. Kalau mau tidur pun, nenek saya mengajarkan etika tidur dengan cara Jawa. Dia kebut-kebut kasur dan bantal menggunakan kainnya. Dikebut-kebut pula seluruh ranjang sampai ke atasnya hingga kainnya hampir menyentuh langit-langit. Dirapikannya seluruh bantal dan guling. Jadi, tempat tidur itu selalu dirapikan, baik setelah bangun tidur maupun hendak tidur. Dia melakukannya sambil terus komat-kamit berdoa. Ketika hendak tidur, nenek saya selalu mengajarkan membaca doa dengan bahasa Jawa yang tidak bisa saya hapal sampai hari ini.

            “Niyat ingsun repan riyalat …,” hanya itu yang saya ingat karena saya selalu membaca doa dengan bahasa Arab seperti yang diajarkan guru ngaji di masjid.

            Karena saya lahir di Bandung, berbahasa Ibu Sunda, hidup di lingkungan Sunda, banyak memahami Sunda dan kesundaan, serta merasa nyaman dengan hal-hal itu, saya meyakini dan mengklaim diri bahwa saya adalah orang Sunda. Di samping itu, memang ayah dan ibu saya tidak pernah menggunakan bahasa Jawa sepanjang hidupnya. Mereka selalu menggunakan bahasa Sunda.

            Sebagai orang Sunda, saya berharap bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk menginjakkan kaki berdiri dan melangkah menyongsong masa Sunda Makalangan. Orang Sunda harus menunjukkan dirinya untuk menjadi pemecah persoalan, bukan menjadi pemicu masalah ataupun pembuat kekusutan. Baik mereka yang duduk di eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun sebagai rakyat biasa, harus mengerahkan potensinya memberikan solusi-solusi positif bagi permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia.

            Orang Sunda sudah diberikan anugerah yang besar oleh Allah swt. Sunda itu bukan hanya nama suku, melainkan pula nama agama, yaitu Sunda Wiwitan. Agama Sunda Wiwitan adalah agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam. Di dalam agama ini ada ajaran yang kita kenal sebagai pepatah hade ku basa goreng ku basa, ‘mulia oleh bahasa hina oleh bahasa’. Jika kita mencintai Nabi Prabu Siliwangi, patuhilah ajarannya, laksanakan segala nasihatnya. Jika kita ingin menjadi penerus Prabu Siliwangi as, pedomani seluruh titahnya. Jangan hanya bikin organisasi kesundaan, tetapi tidak melaksanakan ajaran Sunda itu sendiri. Jangan hanya mengucapkan nama Prabu Siliwangi berulang-ulang hingga hampir menyaingi mengucapkan nama Nabi Muhammad saw, tetapi bersikap hanya menyandarkan pada dongeng-dongeng kesaktian Prabu Siliwangi as. Prabu Siliwangi sakti karena dia adalah Nabi kepercayaan Allah swt. Prabu Siliwangi terkenal ke seluruh dunia karena tercatat sebagai manusia sempurna yang tidak memiliki cacat dalam sepanjang hidupnya. Jika kita ingin jiwa Prabu Siliwangi as hadir di tengah-tengah kita, lakukan segala ajarannya.  Ajaran Prabu Siliwangi as adalah ajaran Islam yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw.

            Ajaran Prabu Siliwangi as yang dapat menjadi pemecah persoalan bangsa Indonesia saat ini adalah hade ku basa goreng ku basa. Negeri ini sedang sakit karena kehilangan kemampuan berbahasa yang baik, benar, mulia, dan mencerahkan. Presiden RI Jokowi mencemaskan perkataan-perkataan kotor yang berseliweran di Medsos. Kapolri Tito Karnavian berulang-ulang mengimbau masyarakat untuk tidak langsung percaya berita-berita di Medsos. Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengkhawatirkan adanya penunggang-penunggang gelap dari dalam dan luar negeri yang memanfaatkan persoalan dalam negeri Indonesia untuk merampok kekayaan sumber daya alam Indonesia.

            Apa ini artinya?

            Artinya, negeri ini sedang sakit menderita kerusakan jiwa akibat kehilangan kemampuan berbahasa yang penuh kehormatan. Negeri ini sedang gemar berbahasa penuh keburukan yang menistakan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan negaranya sendiri.

            Hade ku basa goreng ku basa, ‘mulia karena bahasa dan hina karena bahasa’, mengajarkan bahwa kemuliaan dan kehinaan kita ditentukan oleh bahasa yang kita gunakan. Bahasa itu menentukan rasa, membina jiwa, membimbing rohani. Bahasa yang buruk akan menghancurkan kestabilan jiwa dan menyerahkan diri kita pada syetan. Bahasa yang baik akan melembutkan hati, melapangkan pikiran, meluaskan pandangan, menajamkan spiritual, membuat bijak ruhani, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

            Orang Sunda harus memulai sejak sekarang lebih mengendalikan bahasa yang digunakan, baik di  dunia nyata, maupun di dunia maya. Kita harus memberikan contoh berbahasa yang penuh kemuliaan untuk mendamaikan dan melembutkan suasana. Dengan berbahasa yang penuh kehormatan, pikiran kita akan semakin baik, jiwa semakin bijak, pandangan semakin luas sehingga ada banyak kunci kehidupan dan pengetahuan yang semakin terlihat secara nyata. Pengetahuan dan kunci tentang hidup yang telah terbuka di dalam batin kita akan mencerahkan kehidupan kita sendiri dan memberikan jalan penyelesaian masalah bagi orang lain.

            Jika orang Sunda sudah letih menderita dan sengsara, secepat mungkin gunakan bahasa-bahasa yang baik dan bijak sehingga nilai diri kita di hadapan Sang Hyang Tunggal yaitu Sang Hyang Kersa yaitu Sang Hyang Widi yaitu Sang Hyang Jatiraga yaitu Allah swt semakin tinggi. Jika nilai diri kita sudah semakin tinggi, Sang Hyang Wujud yaitu Allah swt akan mempercayai kita untuk menjadi perkakas-Nya dalam memimpin manusia menuju kebenaran hakiki.

            Hentikan bermimpi orang Sunda mendapatkan zaman keemasan dan zaman kemuliaan jika hanya bangga dengan ikat kepala bermotif batik, pakaian hitam-hitam atau putih-putih, menggunakan berbagai pernak-pernik tradisi Sunda, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk berbahasa yang baik dan mulia sebagaimana yang diajarkan Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam. Jangan lagi menyebut-nyebut nama suci Prabu Siliwangi jika orang Sunda justru menjadi agen-agen pemicu kerusuhan, huru-hara, dan menyesatkan pikiran orang lain. Tidak pantas kalian menjadi orang Sunda jika tidak menjaga perdamaian di antara manusia.

            Prof. Dr. H. Ateng Syafrudin, S.H. (alm) pernah mengatakan kepada saya secara langsung ketika saya membantunya menyusun biografinya, “Orang Sunda punya sifat asli nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara.”

            Maksudnya orang Sunda aslinya adalah kaum yang mematuhi hukum sekaligus menegakkan hukum dan selalu menunjang kedaulatan negara. Orang Sunda secara otomatis tanpa diperintah akan menyediakan dirinya untuk keutuhan bangsa dan negara. Jika ada orang Sunda yang tidak menghormati hukum dan tidak menjaga tegaknya negara, tak pantas dia disebut orang Sunda.

            Allah swt tidak akan memberikan masa Sunda Makalangan jika orang Sunda tidak mampu berbahasa yang baik, menyejukkan, dan mencerahkan. Pedomani ajaran Prabu Siliwangi as untuk berbahasa yang baik, benar, dan mulia hingga orang-orang akan menuju diri kita untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dideritanya. Jika orang Sunda sudah menjadi tujuan banyak orang, saat itulah Sunda Makalangan akan terjadi. Allah swt akan percaya penuh kepada orang Sunda. Insyaallah.

            Hade ku basa goreng ku basa, Indonesia bisa mulia karena bangsanya mampu berbahasa yang baik dan mulia, tetapi Indonesia bisa hancur karena bangsanya berbahasa kotor, hina, penuh kebohongan, dan sarat dengan kesesatan.

            Orang Sunda punya ajaran Sunda dari Prabu Siliwangi as, mulia oleh bahasa hina oleh bahasa. Didik diri dan negeri ini untuk menjadi orang-orang mulia dengan bahasa penuh kemuliaan. Songsonglah Sunda Makalangan terjadi secara nyata dalam kehidupan ini. Untuk Indonesia dan untuk dunia.


            Demi Allah swt.