Sunday, March 5, 2017

Cikal Bakal Islam Nusantara

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Sesungguhnya, tidak ada yang namanya Islam Nusantara, Islam Arab, Islam Timur Tengah, Islam Fundamentalis, Islam Fanatik, Islam Garis Keras, Islam Radikal, Islam Moderat, ataupun Islam-Islam lainnya. Saya juga ketika masih SMA pernah dikata-katai sebagai “Islam Tanjung Priok”.
            Saya jawab saja, “Saya bukan Islam Tanjung Priok. Saya Islam Soekarno-Hatta.”
            Saya jawab seperti itu karena saya tinggal dengan orangtua saya di seputaran Jl. Soekarno-Hatta, Bandung. Tanjung Priok itu nama tempat. Jl. Soekarno-Hatta juga nama tempat. Saya tidak tinggal di Tanjung Priok, Jakarta, tetapi di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung. Jadi, kalau mau ngata-ngatai saya, sebaiknya sebut saja saya adalah Islam Soekarno-Hatta.
            Sesungguhnya, Islam is Islam.  Islam adalah Islam. Islam ya Islam. Tidak ada yang lain.
            Secara wahyu dan ajaran, Islam memang tidak ada dua, tiga, atau empat karena memiliki kitab yang sama, nabi-nabi yang juga sama, dan Tuhan Yang Sama. Meskipun demikian, kita tidak bisa mengingkari bahwa dalam kenyataan terjadi nuansa praktik-praktik islami di dunia ini. Setiap negara, setiap kaum, setiap suku, ataupun setiap komunitas memiliki ciri khas tersendiri dalam melaksanakan ajaran Islam. Hal itu disebabkan memang manusia diciptakan Allah swt berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Setiap bangsa dan suku itu memiliki karakter dan sifat yang berlainan. Ajaran Islam yang kemudian bersentuhan dengan setiap karakter dan sifat yang ada dalam lingkungan manusia tertentu menimbulkan nuansa yang khas pula yang tampak jelas terlihat dan terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
            Sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang utama, nuansa-nuansa yang tampak berbeda itu tidaklah harus menjadi masalah. Bahkan, seharusnya memperkaya pengetahuan Islam kita. Kita tidak boleh memaksakan suatu karakter tertentu terhadap karakter lain yang sesungguhnya sudah diciptakan secara berbeda. Salah total jika kita harus menyeragamkan seluruh manusia dengan karakter Arab hanya karena Nabi Muhammad saw adalah orang Arab.
            Nabi Muhammad saw sendiri tidak pernah berniat menyeragamkan seluruh manusia, tetapi justru menyempurnakan tingkah laku manusia yang berbeda itu agar lebih baik, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
            Artinya, pada setiap bangsa, suku, kaum, dan komunitas sudah memiliki akhlak-akhlak yang baik dan Nabi Muhammad saw datang untuk menyempurnakan akhlak itu agar terarah menuju pada pengabdian kepada Allah swt.
            Apa itu Islam Nusantara?
            Memang definisi ataupun pengertian Islam Nusantara sendiri masih belum jelas sampai sekarang. Akan tetapi, minimal pendapat Said Agil Siradj, tokoh NU, dapat dijadikan pijakan kecil untuk memahami Islam Nusantara.
            Dia bilang, “Islam Nusantara adalah Islam yang merangkul budaya Nusantara. Islam Arab adalah Islam yang keras.”
            Ada baiknya pemahaman itu diperjelas dengan menggunakan berbagai penelitian sangat mendalam sehingga semakin terang dan semakin bisa dipahami dengan mudah sekaligus menepis pendapat-pendapat mereka yang menolak pemahaman Islam Nusantara.

Beda Arab Beda Indonesia
Kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa Arab dan Indonesia memiliki perbedaan watak. Jauh sebelum Muhammad saw menjadi nabi, orang Arab itu berwatak sangat keras. Mereka hidup dalam suasana penuh heroisme, berbangga-bangga atas keturunan dan silsilah keluarga, menjunjung tinggi kepahlawanan, bersedia menumpahkan darah saling bunuh untuk kehormatan kaum dan keluarga, hubungan di antara kaum adalah dengan perjuangan dan pembelaan harga diri, kedigjayaan dan keterampilan berkelahi main pedang merupakan kebanggaan yang dijunjung tinggi. Meskipun demikian, mereka sangat menghormati perjanjian karena jika terjadi pelanggaran, perang pun tidak akan bisa dihindari. Jika terjadi perang, kemusnahan suatu kaum atau suatu keluarga sangat mungkin terjadi. Hal itu disebabkan pihak yang kalah biasanya harta-hartanya dirampas dan kaum perempuannya dibagi-bagikan kepada pihak-pihak yang menang. Perempuan dan harta dipandang sama, yaitu sebagai rampasan perang.
            Ketika Muhammad saw menjadi nabi, mereka yang berwatak keras itu dipersatukan dalam satu panji, yaitu Islam. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, kebiasaan buruk mereka dihilangkan dan kebiasaan baik mereka semakin disempurnakan. Meskipun demikian, watak yang keras dan penuh perjuangan itu tidak dihapus karena memang sudah diciptakan demikian. Kekerasan watak itu tetap ada, tetapi diarahkan untuk hal-hal yang baik, semisal, keberanian membela kebenaran, semangat berkorban untuk membela kehormatan Islam, dan keinginan kuat untuk menegakkan keadilan.
            Adapun Indonesia, jauh sebelum ajaran Nabi Muhammad saw datang, berada dalam situasi yang berbeda. Indonesia tidak seperti Arab yang penuh dengan heroisme atas dasar kebanggaan keluarga. Indonesia berada dalam situasi yang jauh lebih lembut dan tenang. Di Indonesia sudah tercipta rasa-rasa saling tenggang rasa, tepo seliro, sambung rasa, gotong royong, bahkan silih asih, silih asuh, silih asah. Membuat orang lain tidak tersakiti, baik oleh lisan maupun perbuatan merupakan ajaran yang tumbuh pada mayoritas setiap suku bangsa di Indonesia. Menjaga lingkungan untuk tetap tenang dan stabil adalah ciri khas rakyat Indonesia.
            Ketika ajaran Muhammad saw hadir di Indonesia, watak-watak tenang dan lembut itu semakin disempurnakan. Orang-orang Indonesia ini merasa nyaman dengan Islam yang dijalankan dengan watak yang tenang dan lembut sebagaimana karakternya yang memang diciptakan Allah swt seperti itu. Oleh sebab itu, siapa pun pihak yang ingin mengubah watak dan sifat asli bangsa Indonesia selalu akan mendapatkan kesulitan, perlawanan, serta berakhir menjadi kelompok-kelompok kecil yang kerap membuat resah.
            Islam yang dijalankan dengan wataknya sendiri inilah yang tampaknya disebut Islam Nusantara yang membedakannya dengan Islam Arab. Islam-nya tetap sama. Perbedaannya adalah dalam watak dan sifat manusia yang menjalankannya.
            Islam Arab yang penuh kekerasan diberikan ruang untuk hidup dalam ajaran Islam. Demikian pula Islam yang penuh kelembutan diberikan ruang untuk berkembang dalam ajaran Islam. Permasalahannya adalah kapan kita harus seperti Arab dan kapan harus kembali menjadi diri sendiri. Tambahan pula bagi orang Arab, kapan harus seperti orang Indonesia dan kapan harus menjadi diri mereka sendiri. Kekerasan dan kelembutan memang ada dalam ajaran Islam. Kedua hal itu seharusnya saling mengisi dan bersinergi dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt serta memuliakan Islam dan kaum muslimin.

Bibit Islam Nusantara
Bibit Islam Nusantara tampaknya sudah bersemai di Indonesia ini sejak lama. Saya melihatnya dari folklore, ‘kisa-kisah rakyat’, yang berkembang dan bertahan di Sunda dan di Jawa. Di Sunda ada kisah konflik antara Kian Santang dan Prabu Siliwangi. Di Jawa ada konflik antara Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon Noyo Genggong. Kedua kisah ini hanya dongeng dan bukan sejarah karena Si Pembuat Ceritera menggunakan tokoh-tokoh yang sama yang kemudian dihidupkan dalam latar ceritera yang berbeda dan dalam waktu yang berlainan pula (sudah jangan dipikirkan kalimat ini, bisa pusing). Meskipun demikian, para pujangga atau pembuat ceritera ini adalah orang-orang hebat. Mereka membuat ceritera berdasarkan fenomena yang terjadi saat itu, lalu memasukkannya ke dalam suasana spiritual mereka, kemudian mengeluarkannya lagi menjadi sebuah prediksi masa depan dengan kemampuan mereka yang tinggi dalam nganjang ka mangsa datang, ‘melihat masa depan’. Penglihatan mereka itu terbukti benar dan kita rasakan saat ini. Mari kita lihat bagaimana kisah-kisah yang menjadi bibit Islam Nusantara.

Kian Santang dan Prabu Siliwangi
Prabu Siliwangi as sebenarnya nabi yang hidup pada masa Indonesia masih berbentuk Benua Sundaland dan bukan kepulauan seperti sekarang ini. Akan tetapi, dalam dongeng berikut sosok Prabu Siliwangi as ditarik menjadi tokoh ceritera masa kini untuk mewakili ajaran Sunda. Maksudnya, ajaran Sunda dihidupkan dalam rupa tokoh Prabu Siliwangi pada masa Si Pembuat Ceritera hidup.
            Kisahnya panjang, tetapi potongan pendek dari kisah itulah yang sangat terkenal. Dalam dongeng itu, dikisahkan bahwa Prabu Siliwangi yang telah memeluk agama Islam kembali ke agamanya yang dulu, yaitu Sunda Wiwitan. Perlu dipahami bahwa Sunda Wiwitan adalah ajaran Islam pra-Muhammad saw. Karena Prabu Siliwangi kembali pada agamanya yang dulu, anak kandungnya sendiri, yaitu Kian Santang Sang Penyebar Islam berniat memeranginya. Prabu Siliwangi pun kabur dan tilem, ‘hilang’, ke dalam hutan. Ada yang menyebut ke Hutan Sancang di Garut, adapula yang menyebut ke Hutan Salak. Tidak masalah ke hutan yang mana, pokoknya ke dalam hutan.
            Prabu Siliwangi tidak melawan anaknya sendiri. Ia memilih untuk tilem atau hilang dari pandangan mata manusia. Namun, ia akan kembali mengunjungi keturunannya di mana saja dalam wujud yang tidak tampak oleh mata. Yang dimaksud keturunannya ini bukan hanya orang Sunda, melainkan pula seluruh penduduk Benua Sundaland yang pernah berada di wilayah kekuasannya, sekarang bernama Indonesia dan sekitarnya. Hal itu bisa dilihat dalam Uga Wangsit Siliwangi.
            Prabu Siliwangi berkata kepada warga Pajajaran yang ikut mundur sebelum menghilang, “Perjalanan kita hanya sampai hari ini meskipun kalian semua setia kepadaku! Aku tidak boleh membawa-bawa kalian pada masalah ini, ikut-ikutan hidup sengsara, ikut kumal sambil kelaparan. Kalian harus memilih untuk hidup selanjutnya supaya nanti bisa hidup makmur dan kaya raya, bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran seperti yang sekarang ini, melainkan Pajajaran yang berdirinya dibangkitkan oleh perkembangan zaman! Pilih! Aku tidak akan menghalang-halangi sebab bagiku, tidak pantas menjadi raja yang seluruh rakyatnya selalu lapar dan sengsara.
            ….
            Seluruh keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu yang diperlukan. Aku akan datang lagi menolong yang membutuhkan pertolongan, membantu yang kesusahan, tetapi hanya kepada mereka yang baik tingkah lakunya. Jika aku datang, tidak akan terlihat. Kalau aku berbicara, tidak akan terdengar. Memang aku akan datang. Akan tetapi, hanya kepada mereka yang baik hatinya, mereka yang memahami terhadap satu tujuan, mereka yang mengerti pada keharuman sejati, mereka yang memiliki empati tinggi dan tertata rapi pikirannya, serta yang baik tingkah lakunya. Kalau aku datang, tidak akan berupa dan tidak akan bersuara, tetapi memberi ciri dengan wewangian.  Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya.”
            Kapan Prabu Silwangi mengunjungi keturunannya itu?
            Kita akan cari tahu waktunya dari kisah Sabdo Palon Noyo Genggong.

Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon Noyogenggong
Kisah Jawa ini pun memiliki beberapa kesamaan dengan kisah Sunda sebelumnya, yaitu Prabu Brawijaya dikejar anak kandungnya sendiri yang sudah beragama Islam. Prabu Brawijaya dipaksa anaknya untuk menerima Islam. Sang Prabu pun kabur, lalu disusul oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyusulnya untuk mencari solusi yang terbaik agar terjadi perdamaian antara Prabu Brawijaya dengan anaknya yang berasal dari istrinya yang berdarah Cina. Sunan Kalijaga pun dapat menyusulnya. Kemudian, terjadi pertemuan di daerah Banyuwangi sekarang.
            Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang Negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabdo Palon Noyo Genggong.
            Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya, “Sabdo Palon, sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama yang suci dan baik.”
            Sabdo Palon menjawab kasar, “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang setanah Jawa! Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
            Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun, Sang Prabu, kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun, saya akan mengajarkan budi pekerti lagi. Saya sebar ke seluruh tanah Jawa.
            Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan! Mereka akan saya jadikan makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan! Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini, yaitu bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
            Letusan Gunung Merapi ini adalah letusan yang terbesar sepanjang sejarah. Letusan ini menimbulkan rupa-rupa penderitaan. Di samping itu, terdapat pula bencana lain, seperti, gempa bumi di mana-mana, gunung-gunung berapi banyak yang meletus, banjir bak lautan lepas, ketidakadilan ekonomi,  banyak penyakit, kerusakan dalam bidang peternakan, dan banyak keresahan diderita manusia.
            Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang tiba-tiba. Dirinya tidak tampak lagi. Ia kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun, bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Menguatnya Islam Arab
Di dalam kedua kisah itu, yaitu Kian Santang dan Prabu Siliwangi serta Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon Noyo genggong, tampak jelas Islam Arab mengambil alih pengaruh di Nusantara ini sehingga mengakibatkan bibit-bibit Islam Nusantara “tengelam sementara”. Islam berjiwa Arab ini sangat cepat meluas pengaruhnya dari atas sampai bawah, dari penguasa sampai dengan rakyat kecil.
            Kian Santang adalah perwakilan tokoh Islam Arab karena merupakan tokoh yang ngalanglang ka tanah Arab, ‘berkelana ke tanah Arab’. Dia kembali lagi ke tanah Sunda dengan ajaran Islam sekaligus perilaku Arab. Adapun Prabu Siliwangi merupakan tokoh yang nerus Bumi, ‘melesak ke dalam Bumi’, dalam arti tokoh yang sangat kuat dengan kepribadian Sunda.
            Prabu Brawijaya adalah tokoh yang terpengaruh Islam Arab atas ultimatum anaknya sendiri. Adapun Sabdo Palon Noyo Genggong adalah tokoh spiritual pengajar budi pekerti Jawa.
            Jadi, jelas sekali, baik Kian Santang maupun Prabu Brawijaya telah menerima Islam Arab dalam hidupnya. Adapun Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong memilih untuk tetap dalam akhlaknya yang membuat mereka merasa aman, nyaman, dan benar.
            Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong tampaknya mewakili Islam Nusantara yang sementara waktu harus menahan diri menunggu takdir untuk kembali tampil dan menyeimbangkan segalanya. Meskipun mereka berdua tampak tidak menerima Islam, sesungguhnya bukan Islam yang mereka tolak, melainkan Islam yang dijalankan dalam perilaku Arab. Mereka menginginkan Islam yang dijalankan dengan watak Nusantara. Hal itu bisa dilihat bahwa Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong sama sekali tidak menolak keesaan Tuhan, tidak mengingkari Allah swt, tidak memusuhi Nabi Muhammad saw, tidak menyangkal ayat-ayat Al Quran, serta tidak ingin memerangi dan membinasakan orang-orang Islam.
            Kritikan dan ejekan beberapa Raja Sunda selalu ditujukan kepada orang Islam dan bukan kepada Islam. Maharaja Sri Baduga pernah melontarkan ejekan bahwa orang Islam adalah orang-orang yang serakah terhadap agama. Dia memilih untuk hidup tenang dan bahagia hati daripada bertingkah seperti orang-orang Islam.
            Tidak ada keterangan yang jelas mengenai ”serakah terhadap agama”. Akan tetapi, saya mencoba merasakannya sebagai orang Sunda. Yang dimaksud “serakah terhadap agama” itu mirip yang terjadi hari ini juga, yaitu sikap berlebihan orang Islam terhadap agamanya. Karena merasa yakin berdasarkan hati, akal, dan ilmu pengetahuan bahwa Islam adalah agama yang benar dan tidak pernah salah, orang Islam mudah sekali melecehkan serta merendahkan agama orang lain dan para pengikutnya. Bahkan, hal yang lebih parah adalah kerap merendahkan pula sesama orang Islam hanya disebabkan berbeda Ormas. Memang benar Islam itu agama yang benar dan tidak akan bisa dikalahkan secara hati, akal, dan ilmu pengetahuan, tetapi mempertontonkan kebenaran keyakinan secara arogan sambil merendahkan orang lain adalah sikap yang berlebihan.
            Itulah yang saya rasakan dari kalimat Sri Baduga Maharaja bahwa orang Islam, “orang yang serakah terhadap agama.”
            Memang begitu kan kenyataannya?
            Sedikit-sedikit bilang kafir, sesat, bidah, neraka, murtad, dan lain sebagainya. Tentunya, tidak semua orang Islam seperti itu. Banyak pula yang mampu menjaga diri dan hatinya untuk tidak melukai orang lain, baik fisik maupun psikis.
            Perilaku arogan seperti ini pun sesungguhnya terjadi pula pada zaman Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw berulang-ulang mengingatkan sahabat-sahabatnya. Contohnya, ketika Islam semakin menguat di Madinah, banyak sekali para pemimpin nonmuslim yang melakukan diplomasi kepada Nabi Muhammad saw. Para penyembah berhala, penguasa dan pendeta Kristen, tokoh-tokoh Yahudi, dan para pemimpin Majusi berduyun-duyun bergantian menemui Nabi Muhammad saw. Para sahabat Nabi Muhammad saw sering melecehkan tamu-tamu Nabi saw karena agama dan perilaku buruk orang-orang kafir itu. Para sahabat tak jarang menertawakan keyakinan orang-orang nonmuslim yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Para sahabat memandang rendah keyakinan nonmuslim dan pribadi para pemimpinnya yang juga memang tidak masuk akal.
            Melihat para sahabatnya berperilaku tidak sopan seperti itu, Nabi Muhammad saw selalu mengingatkan, “Jika ada orang mulia di antara mereka datang kepadaku, perlakukanlah sebagaimana mereka orang mulia di antara kaumnya.”
            Artinya, tamu itu harus dihormati. Para pemimpin itu tetap harus dihormati meskipun berbeda keyakinan dan agama karena mereka adalah orang yang terhormat di dalam kaumnya.
            Memang para sahabat kadang berlebihan dan sangat keterlaluan. Bahkan, sampai dengan melakukan pembunuhan terhadap tamu Nabi Muhammad saw. Para sahabat tahu bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah orang yang sangat lembut dan baik. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw selalu memperhatikan dan memberikan banyak kebutuhan orang-orang kafir yang datang kepadanya. Nabi Muhammad saw tidak pernah berkeras hati dalam menghadapi tamunya. Nabi Muhammad saw sangat dikenal kedermawanannya melebihi angin. Angin itu sangat dermawan, memberikan kehidupan oksigen pada semua makhluk hidup tanpa diminta dan tanpa meminta balasan. Nabi Muhammad saw lebih dermawan daripada angin. Oleh sebab itu, para sahabat kadang kesal karena merasa Nabi Muhammad saw selalu menguntungkan para tamunya yang jelas-jelas kafir itu. Apalagi jika tamunya itu diketahui pada masa lalunya pernah melakukan kejahatan, penganiayaan, dan pengusiran terhadap orang Islam. Para sahabat kadang-kadang berbohong dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw sedang tidak ada di tempat, padahal Nabi ada di rumahnya.
            Bahkan, para sahabat berbohong dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw baru bisa ditemui malam hari. Selama tamunya menunggu malam, para sahabat mengajaknya berbincang-bincang, lalu mengajaknya berjalan-jalan. Ketika sampai di tempat sepi, para sahabat pun memancung tamu Nabi Muhammad saw tersebut.
            Mereka memegang kepalanya sambil berteriak kepada temannya, “Cepat penggallah leher kepala musuh Allah ini!”
            Itu kenyataan.
            Mau bagaimana lagi?
            Itu watak mereka.
            Tak heran jika Nabi Muhammad saw menasihati, “Orang Islam itu adalah orang yang mampu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti orang lain.”
            Kembali ke soal Prabu Siliwangi as. Kian Santang memang tokoh pemberani dan gemar menantang risiko meskipun berakibat kematian. Kisah yang sangat terkenal adalah ketika mengkhitan beberapa orang Garut, Jawa Barat, tetapi terjadi kesalahan prosedur sehingga mengakibatkan orang yang disunat mati. Dia terlalu berani. Ia pun memiliki pandangan cukup radikal bahwa menurutnya untuk membuat suatu masyarakat menjadi muslim, haruslah mengalahkan terlebih dahulu penguasanya. Ketika penguasanya jatuh ke tangan kaum muslim, masyarakat pun akan menjadi muslim. Kian Santang memang cukup terpengaruh oleh watak Islam Arab. Adapun Prabu Siliwangi lebih menyukai jalan yang lebih soft dan lembut.
            Karena watak Islam Arab yang keras itulah, Prabu Siliwangi mengalah untuk tilem ke dalam hutan dan akan kembali lagi pada waktu yang tepat. Di samping itu, Prabu Siliwangi menyadari bahwa memang ini saatnya untuk agama selam, ‘Islam’, dalam arti watak Arab berkuasa. Hal itu disebabkan memang Islam Arab sangat dibutuhkan untuk menghalangi penjajahan bangsa-bangsa penjajah  merusakkan tanah air Indonesia. Watak-watak keras Arab sangat diperlukan untuk kemerdekaan Indonesia. Ajaran-ajaran kebanggaan diri, perang, keberanian, kepahlawanan memang sangat dibutuhkan untuk perjuangan Indonesia dalam mengusir penjajahan. Untuk menghentikan penjajahan, memang diperlukan watak-watak keras dan pemberani. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat jihad fisabilillah dan hadiah surga meluas di mana-mana. Kisah-kisah kepahlawanan dari tanah Arab, Turki, dan zaman kekhalifahan merangsek masuk ke dalam jiwa dan otak kaum muslimin untuk menjadi pemberani melawan penjajahan. Islam Arab memang berpengaruh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
            Sabdo Palon Noyo Genggong pun menyadari hal yang sama bahwa sudah ada garis untuk berpisah dengan Prabu Brawijaya. Ia pun memahami bahwa Islam Arab sangat diperlukan untuk perjuangan melawan kompeni. Meskipun demikian, di kalangan orang Jawa ada ejekan bagi orang Islam sebagai orang yang kearab-araban. Ejekan mereka itu disebabkan banyaknya nama-nama bayi yang berbahasa Arab, berpakaian ala Arab, berperilaku bagai Arab, berbicara seperti orang Arab, semakih bergaya Arab dianggapnya semakin soleh dan dekat dengan Nabi saw. Padahal, Islam sendiri tidak mutlak-mutlakan mengajarkan hal seperti itu.
            Sabdo Palon Noyo Genggong membiarkan Islam Arab berada di tanah Jawa sampai Gunung Merapi meletus dahsyat untuk kemudian kembali mengajarkan budi pekerti.

Islam Nusantara Menguat
Merapi telah meletus dahsyat dan mengguncangkan perhatian seluruh dunia. Bencana gempa Bumi dan banjir bak lautan lepas kerap terjadi. Ketimpangan ekonomi masih terjadi.  Perilaku manusia makin tidak terkendali, baik mulutnya maupun tingkah lakunya.
            Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong sesungguhnya telah kembali dan hidup di masyarakat. Prabu Silliwangi dengan Sunda Wiwitan serta Sabdo Palon Noyo Genggong dengan budi pekerti kembali mempengaruhi hidup bangsa Indonesia. Kedua tokoh itu mewakili nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang dirindukan kembali hidup sebagai jati diri bangsa.
            Tidak merasakah kita bahwa pengaruh mereka berdua sangat kuat dan semakin kuat terhadap diri kita?
            Penjajahan sudah selesai, kecuali di Palestina. Islam Arab dengan kekerasan wataknya telah sempurna berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia. Sekarang watak itu harus disimpan dulu agar bisa kembali pada watak asli bangsa yang lembut, penuh nilai luhur, tenggang rasa, sambung rasa, silih asih-silih asuh-silih asah, gotong royong, tepo seliro, dan lain sebagainya. Kita sudah merdeka. Ruang untuk kembali tenang sudah sangat terbuka lebar.
            Pancasila tidak lagi dipertentangkan dengan Islam, bahkan menjadi bagian dari semangat perjuangan Islam. Bhineka Tunggal Ika adalah jati diri bangsa yang terus diperjuangkan. Pembukaan UUD 1945 merupakan perwujudan dasar budi perkerti bangsa untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia. Toleransi menjadi sarana untuk saling membiarkan orang lain bebas menjalankan keyakinannya masing-masing. Soal benar dan salah keyakinan itu adalah urusan nanti di akhirat dalam pengadilan Illahi bukan di dunia ini.
            Itulah cikal bakal Islam Nusantara, yaitu Islam yang dijalankan oleh watak dan karakter bangsa Indonesia yang penuh nilai-nilai keluhuran diri hasil dari olah rasa.
            Bagi mereka yang masih menggunakan Islam berwatak Arab, padahal situasinya sudah berbeda, Sabdo Palon Noyo Genggong memberikan ancaman, “Bila ada yang tidak mau memakai (budi pekerti), akan saya hancurkan! Mereka akan saya jadikan makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan!”
            Hal ini juga terbukti bahwa dengan semakin menguatnya kerinduan bangsa pada jati dirinya sendiri, siapa pun akan dilibas dan pasti dikalahkan, baik itu mereka yang kearab-araban maupun kebarat-baratan.
            Mereka yang masih belum kembali pada nilai-nilai luhur bangsa anugerah Allah swt, akan tersudut, terpojok, serta selalu berada kegelisahan dan kecemasan. Bahkan, bisa-bisa dianggap pengganggu atau perusak suasana oleh masyarakat.
            Kini saatnya meminggirkan Islam Arab dan kembali pada Islam Nusantara. Bahkan, orang-orang Arab pun sudah menyadari bahwa sekarang masanya bukan masa kekerasan dan perang, melainkan masa kelembutan, perdamaian, berbagi, dan saling mengisi. Kehadiran Raja Arab Salman di Indonesia dengan berbagai pernyataannya tentang Indonesia menunjukkan bahwa dia dan Arab ingin belajar dari Indonesia mengenai toleransi, keramahan, persaudaraan, perdamaian, kebebasan berbicara yang terukur, serta kebebasan menyampaikan aspirasi. Islam Nusantara tampaknya semakin hari semakin dapat menjadi jawaban dalam memecahkan setiap keresahan dunia saat ini. Syaratnya, kitanya dulu yang telah banyak diberi anugerah oleh Allah swt ini mampu saling melindungi, saling berbagi, saling menyayangi, dan saling menghormati di antara sesama bangsa sendiri. Jika kitanya masih tersesat, jangan harap bisa berkontribusi bagi semesta alam. Perbaiki diri saja dulu, baru berbuat bagi orang lain.
            Sampurasun.
           


Thursday, March 2, 2017

Kristen dan Cina Dilarang Masuk!

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy, Banten, Indonesia, memang dikenal sebagai suku yang ekslusif dan tidak mudah tergoda oleh rayuan pembaharuan dan pembangunan. Mereka memiliki wilayah-wilayah yang dilarang dimasuki oleh orang lain, bahkan oleh warga mereka sendiri.

            Mereka bilang, “Pamali”

            Mereka memiliki wilayah atau tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orang beragama Kristen dan ras Cina. Sebagaimana yang dikatakan Prof. Garna (1991), wilayah itu dilarang dimasuki oleh Karesten jeung Cina.

            Dalam artikelnya, Garna tidak menjelaskan mengapa Kristen dan Cina dilarang begitu keras untuk memasuki wilayah tertentu. Tak ada keterangan apa pun yang dapat membuat kita mengerti tentang larangan itu.

            Hal itu membuat saya menduga-duga bahwa larangan itu diakibatkan oleh dua hal besar, yaitu keyakinan dan perilaku/habit dari orang Kristen dan Cina dalam pengalaman hidup orang Baduy.

            Keyakinan Kristen yang berupa trinitas atau “Tuhan satu dalam tiga dan tiga dalam satu” sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Demikian pula, keyakinan bangsa Cina yang tidak sedikit mengisahkan banyak dewa juga sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Kedua keyakinan itu jika masuk ke dalam wilayah Baduy dikhawatirkan akan mengganggu keharmonisan Suku Baduy. Keyakinan Suku Baduy sendiri sangat dekat dengan ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw. Bahkan, Sunda Wiwitan adalah agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Prabu Siliwangi as. Oleh sebab  itu, orang-orang Islam, terutama yang bersuku Sunda, lebih bisa masuk secara akrab dan mesra dengan warga Baduy, Kanekes. Sunda Wiwitan hanya mengakui Tuhan Yang Tunggal, yaitu Sanghyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Sanghyang Wujud (Tuhan Yang Memiliki Wujud), Sanghyang Kersa (Tuhan Yang Maha Berkehendak), Sanghyang Jatiniskala (Tuhan Yang Tidak Bisa Dibayangkan Bentuk-Nya), Sanghyang Cipta Rasa (Tuhan Yang Menciptakan Rasa), Sanghyang Jatiraga (Tuhan Yang Memiliki Keaslian dan Kekekalan Raga), dan lain sebagainya yang semuanya itu menuju pada Zat Allah swt dalam bahasa Arab.

            Hal itu pun menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi as adalah bukan beragama Hindu atau Budha Tantra. Prabu Siliwangi adalah Nabi as, kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan Islam dengan syariat yang disesuaikan situasi dan kondisi saat itu. Di samping itu, menegaskan pula bahwa “tidak ada jejak Hindu dan Budha” di dalam sejarah Tanah Sunda.

            Perilaku dan habit orang Kristen dan Cina pun kemungkinan menjadi dasar dari pelarangan masuk bagi Karesten jeung Cina ke wilayah tertentu di lingkungan warga Kanekes, Suku Baduy. Sebagaimana kita ketahui bahwa masuknya Kristen ke Indonesia hampir bisa dikatakan berbarengan dengan dimulainya awal kolonialisme yang dibawa oleh pasukan Barat. Apabila kita berbicara tentang kolonialisme atau penjajahan, tak ada habisnya diisi oleh perilaku angkuh, sok berkuasa, suka melecehkan, dan melakukan berbagai kekejian terhadap warga pribumi. Orang Baduy jelas tidak menyukai hal itu.

            Hal yang menarik adalah justru pengalaman orang Sunda dengan Cina. Pelarangan masuknya ras Cina kemungkinan besar diakibatkan oleh masa lalu ketika bangsa Indonesia hidup dengan sangat makmur dan kaya raya. Setelah Nabi Prabu Siliwangi as dipercaya Allah swt untuk menanam bibit padi yang pertama di muka Bumi, rakyat Sundaland sangat kaya raya berlimpah ruah pangan dan harta benda. Di dalam naskah tentang penanaman bibit padi yang pertama itu ada larangan dari Allah swt bahwa padi atau beras tidak boleh diperjualbelikan karena padi adalah makanan terlezat dan penuh berkah bagi semua manusia dan hanya boleh dimanfaatkan untuk darma bakti pada kemanusiaan. Sayangnya, setelah masa kenabian Prabu Siliwangi as berakhir dan berlanjut ke beberapa generasi berikutnya, ada saudagar Cina yang ingin membeli beras. Bertahun-tahun keinginan bangsa Cina itu tidak pernah menjadi kenyataan karena selalu ditolak. Padi dan beras hanya untuk dimakan tanpa boleh diperjualbelikan. Akan tetapi, ras Cina memang tidak pernah menyerah. Dengan segala rayuannya, entah dengan cara apa mereka memelas, ada Permaisuri Kerajaan Sunda yang terbujuk rayu, lalu terjadilah transaksi jual beli padi atau beras pertama di dunia.

            Jual beli yang dilarang Allah swt itu jelas menimbulkan turunnya hukuman Allah swt. Hukuman itu berupa laki-laki harus bekerja keras dua kali lipat untuk mendapatkan penghasilan yang sama dibandingkan masa lalu serta perempuan harus ikut pula bekerja keras untuk membantu kaum laki-laki. Tampaknya, hukuman itu berlanjut hingga hari ini. Semua orang harus kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, pada masa lalu kaum laki-laki hanya cukup kerja ringan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kaum perempuan tidak perlu ikut bekerja membantu para lelaki, tetapi cukup bersolek dan menerima hasil kerja lelaki di rumah dan di tempat-tempat yang menyenangkan, seperti, di taman, air terjun, sungai, pendopo, atau kaputren.

            Kisah itu saya dapatkan dari Proceedings: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi yang disusun oleh V. Sukanda Tesier dan  Hasan Muarif Ambary yang diterbitkan oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1991.

            Kemungkinan itulah yang menjadikan Suku Baduy melarang ras Cina untuk memasuki wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai mereka. Saudagar Cina telah berhasil merayu Permaisuri untuk membeli beras yang berakibat turunnya hukuman.

            Apabila kita hubungkan dengan hadits-hadits yang mengisahkan keadaan akhir zaman ketika Imam Mahdi memegang tampuk kekuasaan dunia, sangat mungkin bahwa larangan jual beli padi dan beras ini diberlakukan kembali hingga kaum laki-laki tidak perlu bekerja terlalu keras dan perempuan selalu mempercantik dirinya tanpa perlu ikut membantu kaum lelaki. Hal itu disebabkan ketika Imam Mahdi berkuasa diberitakan bahwa keadilan tercipta di seluruh dunia dan kemakmuran menjadi milik semua manusia, bahkan jika ada seseorang yang meminta sesuatu kepada orang lain, orang lain itu dengan segera memberikannya dengan rela hati. Tak ada yang pelit karena semuanya tercukupi.

            Hanya Allah swt yang tahu keadaan semua ciptaan-Nya dari awal hingga akhir.


Menciptakan Hubungan Baik Baru
Larangan untuk Kristen dan Cina memasuki wilayah-wilayah tertentu di Baduy bukan berarti sama sekali tidak bisa diubah. Apabila dugaan saya benar bahwa larangan itu berasal dari “keyakinan yang berbeda dan perilaku yang tidak disukai”, larangan itu bisa menjadi longgar dengan cara menunjukkan diri bahwa orang Kristen yang sekarang bukanlah penjajah yang merusakkan kehidupan, melainkan sama-sama warga Indonesia yang berkewajiban untuk sama-sama menjalin persaudaraan di antara sesama warga bangsa serta bersenang hati untuk saling membantu. Demikian pula dengan ras Cina atau keturunan Tionghoa harus menunjukkan diri bahwa kita semua adalah saudara sesama warga bangsa dan sesama manusia yang tidak ingin saling berupaya menguasai, bahkan bersedia bersama-sama untuk menjalankan ajaran Nabi Prabu Siliwangi as, yaitu silih asih, silih asuh, silih asah, ‘saling mengasihi, saling melindungi, saling mencerdaskan’.

            Berhubungan baik dengan warga Baduy akan memiliki manfaat yang banyak, baik untuk penelitian maupun untuk kehidupan sosial. Warga di luar Baduy-lah yang harus terlebih dahulu menunjukkan sikap yang positif karena warga Baduy tidak akan berubah sebelum mereka percaya kepada orang-orang di luar mereka.

            Wallaahualam


            Sampurasun

Thursday, February 16, 2017

Para Saksi Kehancuran Indonesia

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Bukan kehancuran Indonesia yang sekarang yang saya maksudkan, melainkan Indonesia yang dulu sebelum namanya bukan Indonesia ketika masih merupakan daratan Sundaland. Masa depan Indonesia yang sekarang masih belum diketahui apakah akan hancur atau bertambah mulia. Meskipun menjadi mulia dan besar, pada akhirnya akan hancur juga oleh kiamat karena semuanya ada waktu berakhirnya. Segala sesuatu yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Satu-satunya zat yang tidak berawal dan tidak berakhir hanyalah Allah swt. Oleh sebab itu, Allah swt tidak akan pernah hancur. Tugas kita sekarang adalah menjadikan Indonesia mulia dan besar sehingga rakyatnya pun menjadi mulia dan besar.

            Dulu, ketika Indonesia masih berupa Benua Sundaland, rakyat dan kerajaan-kerajaannya teramat makmur, mudah sandang, murah pangan, dan ketinggian teknologinya tak ada bandingannya di dunia ini. Bangunan-bangunan megah seperti di Gunung Padang dan ratusan, bahkan ribuan candi dibangun dengan sangat teliti dan rumit sehingga orang-orang sekarang pun tak memiliki kemampuan untuk menjelaskan bagaimana bangunan-bangunan megah itu bisa berdiri kokoh dan indah tiada tara. Di samping itu, makanan tidak pernah kekurangan, semua orang hidup dalam keadaan kaya raya dengan segala perhiasan-perhiasan dunianya. Akan tetapi, sayangnya, manusia memang kerap lupa dan menjadi serakah, tak pernah puas dengan apa yang telah didapatnya. Banyak manusia yang selalu ingin lebih dan lebih lagi. Ketika keinginannya untuk menjadi lebih kaya raya tidak terpenuhi dan doanya tidak dikabulkan Allah swt, mereka pun kecewa. Kekecewaan mereka pun mengubah sikap dan keyakinan hidup mereka kepada Allah swt. Mereka mencari sesembahan lain yang dianggap mampu memuaskan keinginan mereka. Akibatnya, mereka menjadi kafir dan bersahabat erat dengan Iblis Laknatulllah. Ketika kekafiran mereka menjadi-jadi dan meninggalkan ajaran para nabi, seperti, Nabi Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya, Allah swt pun murka dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya sehingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping menjadi kepulauan seperti yang sekarang ini bernama Indonesia.

“… Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS 34 : 17)


Mereka yang Selamat Menjadi Saksi Kehancuran
Ketika Allah swt menghancurkan Benua Sundaland dengan sangat dahsyat yang menurut Plato, filsuf Barat, terjadi dalam satu hari, orang-orang Indonesia pun berlarian ketakutan kesana-kemari tak tentu arah, bingung dan cemas, para ibu meninggalkan bayi yang sedang disusuinya, terjadi kerusakan dalam organ-organ tubuh akibat getaran dan kepanikan luar biasa, serta sebagian kabur ke berbagai penjuru dunia. Bencana dahsyat itu benar-benar mengerikan dan sampai hari ini belum ada lagi bencana sesadis itu. Saking dahsyatnya, orang-orang sombong dan angkuh pun hancur lebur, baik fisik maupun jiwanya.

            Beberapa dari mereka yang kafir, tetapi tidak terlalu kafir diselamatkan Allah swt dari bencana spektakuler itu. Namun, mereka mulai gila dan kehilangan akal, tak jelas lagi pandangan dan arah hidup mereka. Allah swt tahu itu semua, kemudian menyelamatkan jiwa dan pikiran mereka serta kembali menenangkan mereka agar pikiran mereka dapat kembali lurus dan menyadari berbagai kesalahan dan kebodohan yang telah diperbuat mereka.

            “Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar,’ dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS 34 : 23)

            Orang-orang ini sadar atas kesalahan dirinya yang telah melupakan ajaran para nabi terdahulu. Mereka menyadari bahwa peringatan-peringatan dan ancaman-ancaman dari para nabi terdahulu adalah kebenaran dan bukan kebohongan karena mereka telah mengalaminya sendiri. Merekalah para saksi atas hancurnya Benua Sundaland sehingga menjadi kepulauan seperti sekarang ini.

            Beberapa dari mereka memulai kembali membangun perkampungan dengan menjaga setiap nasihat-nasihat leluhur mereka yang berasal dari para nabi terdahulu. Mereka bertahap membangun kerajaan-kerajaan kecil pada berbagai pulau dan tetap menjadikan ajaran para nabi mereka sebagi panduan. Begitulah kearifan lokal mulai terjadi. Sebagian lagi memilih untuk menjauhi kehidupan dunia karena saking takutnya kepada Allah swt yang bisa kapan saja menjatuhkan bencana dahsyat atas kekafiran mereka. Merekalah orang-orang yang anti pembaharuan, anti pembangunan, dan anti perubahan. Mereka tetap kuat dalam adat mereka dan tidak ingin berubah, bahkan menolak siapa pun dan apa pun yang dapat mengubah keyakinan dan cara hidup mereka. Mereka tidak peduli dengan perkembangan dan modernisasi. Mereka hanya peduli pada kehidupan spiritual dan menjaga diri agar Allah swt tidak lagi menjatuhkan bencana yang sangat dahsyat.

            Salah satu yang tidak menginginkan perubahan drastis dan menolak apa pun yang menurut anggapan mereka bisa membawa kerusakan adalah warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy. Mereka benar-benar selektif atas hal-hal yang datang dari luar diri mereka. Mereka tak ingin diganggu dan tidak ingin berubah. Leluhur mereka secara turun-temurun mengingatkan bahaya apabila meninggalkan berbagai peribadatan kepada Allah swt. Leluhur mereka benar-benar mengalami bagaimana perubahan keyakinan dan kemunkaran mengakibatkan kehancuran luar biasa. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk tidak meninggalkan peribadatan dan pengabdian kepada Allah swt dengan cara mereka sendiri sesuai syariat yang kemungkinan besar berasal dari Nabi Prabu Siliwangi as. Hal itu disebabkan mereka meyakini adanya Buana Larang, Buana Tengah, dan Buana Nyungcung.

            Apabila sampai meninggalkan adat dan keyakinan leluhur, mereka sangat takut Allah swt akan menimpakan azab seperti yang sudah-sudah, bahkan lebih besar. Hal ini sebagaimana yang dikatakan mereka sendiri.

            Ti meletuk datang ka meletek, ti segir datang ka segir deui. Lamun dirobah buyut kami lamun hujan liwat ti langkung lamun halodo liwat ti langkung. Tengsetna lamun buyut kami dipaksa dirobah cadas malela jadi tiis, buana larang buana tengah buana nyungcung pinuh ku sagara (Judistira Garna, 1991, Masyarakat Baduy dan Siliwangi [Menurut Anggapan Orang-Orang Baduy Masa Kini]).

            Apabila kita terjemahkan secara bebas, perkataan orang Baduy itu kira-kira akan seperti berikut.

            Dari subuh sampai subuh lagi, dari musim hujan sampai musim hujan lagi, dari musim kemarau sampai kemarau lagi, kami tidak akan berubah. Pendek kata, kalau keyakinan dan kebiasaan kami diubah, batu cadas dan hutan tidak akan lagi bermanfaat, seluruh dunia nyata dan dunia gaib akan dibanjiri lautan.

            Hal yang membuat saya sangat tertarik adalah kata-kata terakhir dalam kalimat mereka, yaitu “… pinuh ku sagara”, artinya “… dibanjiri lautan.”

            Mengapa mereka mengatakan bahwa azabnya itu adalah dibanjiri lautan?

            Mengapa bukan azab berupa angin puyuh puting beliung topan tornado?

            Mengapa bukan kehancuran akibat kebakaran hutan yang sangat masif atau bencana lainnya?

            Hal itu menunjukkan bahwa leluhur mereka memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan bencana banjir yang meluap dari lautan lepas hingga menenggelamkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Hal itu pun mengisyaratkan bahwa memang Benua Sundaland itu adalah tempat yang sangat makmur dan hebat yang disebut-sebut orang sebagai Atlantis sebagaimana yang dikisahkan oleh Plato. Sayangnya, Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia dan sekitarnya itu harus hancur berkeping-keping, bagai bubuk roti yang disebarkan hingga berupa kepulauan seperti sekarang ini. Hal itu disebabkan oleh kemarahan Allah swt akibat kedurhakaan dan keserakahan penduduknya yang keterlaluan hingga meninggalkan segala peribadatan dan mengalihkan keimanan mereka kepada Iblis Laknatullah, padahal Allah swt telah menjadikan penduduk Benua Sundaland adalah manusia paling unggul di muka Bumi.

            “Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin.” (QS 34 : 20)

            “… mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.” (QS 34 : 45)

            Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa jika kita mengingkari Allah swt dan tak ada lagi orang yang mampu menjaga syariat Allah swt untuk tetap dalam kebenaran sehingga menganggap bahwa dosa-dosa mereka sebagai hal yang benar, Allah swt akan benar-benar menjatuhkan hukuman yang teramat berat dan mengerikan.

            “… Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

            Jaga diri dan perbuatan kita untuk tidak membuat murka Allah swt agar tak lagi mendapatkan azab sebagaimana yang telah disaksikan oleh leluhur Suku Baduy, warga Kanekes, Banten, Indonesia.


Tak Ada Jejak Hindu-Budha di Tanah Sunda

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri yang masih mengatakan bahwa Hindu dan Budha pernah mempengaruhi hidup orang Sunda. Bahkan, Prabu Siliwangi as pun disebutnya kalau tidak beragama Hindu, ya beragama Budha. Sesungguhnya, Prabu Siliwangi adalah nabi kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan tauhid di Benua Sundaland. Agamanya disebut Sunda Wiwitan. Agama itu adalah Agama Islam pra-Muhammad saw.

            Saya sebagai orang Sunda sama sekali tidak pernah menemukan satu orang pun atau sekeluarga pun yang menyimpan kitab Hindu atau Budha sebagai kitab yang pernah dijadikan pegangan hidup. Demikian pula, orang Sunda tidak pernah berperilaku atau berkata-kata sebagaimana orang yang pernah dipengaruhi Hindu atau Budha. Kedua agama itu tidak ada jejak sama sekali di Tanah Sunda. Agama Sunda Wiwitan jauh sekali perbedaannya dibandingkan Agama Hindu atau Budha. Agama Sunda Wiwitan malahan lebih dekat pada ajaran Islam Muhammad saw dalam hampir semua hal.

            Agama Sunda Wiwitan langsung dengan mudah melebur ke dalam Agama Islam. Hal itu disebabkan Agama Sunda Wiwitan adalah Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as, kemudian disempurnakan oleh Islam yang dibawa Muhammad saw.

            Hal ini bisa dilihat dari dongeng-dongeng lisan masyarakat Sunda yang sangat akrab dengan masyarakat Arab. Para raja Sunda kerap datang ke tanah Arab dan menikah dengan puteri raja-raja di sana. Para Pangeran Sunda pun menikahi puteri-puteri Arab dan Mesir. Terkadang pula raja-raja dan pangeran Arab atau Mesir mendatangi tanah Sunda, lalu menikahi puteri-puteri kerajaan Sunda. Hasil pernikahan mereka melahirkan para wali dan syekh yang kemudian membangun kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

            Tak pernah ada kisah yang sangat akrab dengan raja-raja atau keluarga istana India. Tak ada dongeng yang mengisahkan adanya pernikahan ataupun persekutuan antara kerajaan Sunda dengan kerajaan-kerajaan di India. Hal itu menunjukkan bahwa sama sekali tidak pernah ada pengaruh Hindu dan Budha di tanah Sunda. Kalau Hindu atau Budha memiliki pengaruh di tanah Sunda, harus ada kisah ataupun sejarah mengenai keakraban atau konflik antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan India.

            Bagaimana dengan pewayangan?

            Bukankah itu pengaruh dari India?

            Bukan!

            Kisah-kisah pewayangan bukanlah berasal dari India. Kisah pewayangan itu lahir di Indonesia dan merupakan kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Kisah ini tersebar di seluruh tanah kekuasaan Kerajaan Sunda. Dalam peta yang dibuat Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, Kerajaan Sunda itu meliputi wilayah yang teramat luas dan India saat itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. India hanyalah sebuah kadipaten dari Kerajaan Sunda. Kisah pewayangan ini mengalir ke India dan menarik masyarakat India. Bukan hanya kisah pewayangan yang diadopsi, melainkan sistem penanggalan India pun mengikuti sistem penanggalan Sunda. Dalam Konferensi Internasional Budaya Sunda II di Gedung Merdeka, Bandung, yang saya diundang menjadi pesertanya, sebagai wakil dari Yayasan Al Ghifari, dijelaskan bahwa kalender India sama persis dengan kalender Sunda karena India mengikuti sistem Sunda.

            Tak ada pengaruh Hindu dan Budha di tanah Sunda. Pengaruh sangat besar justru berasal dari Arab karena kesamaan keyakinan. Misalnya, dongeng Kian Santang dan Walangsungsang yang datang ke Mekah, lalu dibalas oleh kunjungan Nabi Muhammad saw ke Garut di daerah Kadungora dan Leuwigoong. Pesan dongeng itu jelas sekali bahwa ajaran Islam dari tanah Arab itu sangat direstui untuk menyempurnakan agama Sunda Wiwitan yang merupakan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as.

            Dongeng-dongeng lisan di tanah Sunda yang akrab dengan Arab memiliki campuran antara kenyataan, khayalan, dan uga (prediksi atau ramalan masa depan). Oleh sebab itu, cukup rumit memisahkan mana yang kenyataan sejarah, mana yang khayalan, dan mana yang merupakan prediksi masa depan.

            Kerajaan-kerajaan di Indonesia ini pada masa lalu merupakan kerajaan-kerajaan kuat dan besar, misalnya, Pajajaran, Majapahit, Singosari, Perlak, Samudera Pasai, dan lain sebagainya. Mereka dikenal sebagai para pelaut ulung yang mampu berlayar ke seluruh dunia sehingga terjalin bisnis yang kuat dan sangat menguntungkan dengan berbagai negara di dunia, termasuk dengan Eropa, Cina, dan Arab. Kehebatan orang Indonesia dalam mengarungi samudera ini diabadikan dalam lagu yang kita kenal dengan judul Nenek Moyangku Seorang Pelaut.

            Dalam petualangan dan pelayarannya ke berbagai negeri, tentunya mengalami berbagai interaksi dan komunikasi dengan wilayah-wilayah yang pernah dikunjunginya dalam berbisnis. Pengalaman para petualang dan tokoh Sunda ke daerah Arab ini memunculkan pula kisah yang sangat mungkin merupakan kenyataan sejarah. Kisah ini lagi-lagi memperlihatkan bagaimana akrabnya Sunda dengan Arab.

            Wahyu Wibisana dalam Pengislaman Prabu Siliwangi sebagai Pelengkap Kehadiran Tokoh Ceritera Siliwangi dalam Ceritera-Ceritera Rakyat Jawa Barat (1991) mengisyaratkan bahwa sudah terjadi hubungan yang sangat akrab antara orang Sunda dengan Arab jauh sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Ia menuturkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw baru berusia tujuh hari, menangis terus-menerus dan tidak mau berhenti meskipun telah dibujuk oleh siapa pun. Muhammad saw kecil baru berhenti menangis ketika orang Sunda yang bernama Syekh Batara Galunggung menghiburnya dengan cara memberikan kolecer kepada Nabi Muhammad saw. Kolecer itu kincir yang terbuat dari kertas yang jika ditiup akan berputar-putar lucu. Kolecer saat ini merupakan kerajinan tangan ringan yang diajarkan oleh guru-guru TK di Indonesia.

            Hal ini jika ditelusuri lebih teliti, sangat mungkin menjadi sejarah bernilai ilmiah mengingat kehebatan para pelaut Indonesia pada masa kejayaan berbagai kerajaannya mampu berdagang ke berbagai penjuru dunia. Ketika berada di negeri orang, tentu saja mereka berinteraksi dalam waktu yang cukup panjang hingga satu atau dua bulan menunggu urusan bisnis rampung. Ketika sampai di tanah Arab, mereka pun sampai ke Mekah dan mengenal keluarga Nabi Muhammad saw.

            Ketika Nabi Muhammad saw sudah dewasa, sejak sebelum menjadi nabi maupun sesudah menjadi nabi, beberapa kali datang ke Indonesia dengan tujuan yang sama, yaitu berdagang sejak menjadi pesuruh Siti Khadijah ra. Bahkan, ada naskah Sunda kuno yang mengisahkan bahwa rombongan dari tanah Arab datang ke tanah Sunda dipimpin oleh Abu Jahal untuk berbisnis. Di dalam rombongan itu, terdapat Muhammad saw dan Abu Bakar ra. Ketika berada di tanah Sunda, rombongan itu keluar masuk hutan dan mengalami beberapa kali kesulitan karena tersesat dan kerap diganggu harimau. Oleh sebab itu, Abu Bakar mengusulkan agar Muhammad saw diberi kesempatan untuk memimpin rombongan. Setelah pemimpin rombongan diganti oleh Muhammad saw, perjalanan pun menjadi lancar dan harimau tak mau mengganggu lagi. Ketika Muhammad saw telah menjadi nabi pun, tetap datang ke tanah Sunda untuk mengajarkan agama dan mendirikan beberapa masjid.

            Lagi-lagi informasi dari naskah-naskah ini jika diteliti lagi lebih mendalam, dapat menjadi bernilai kenyataan sejarah. Hal itu disebabkan sangat mungkin terjadi interaksi yang akrab antara tanah Sunda dan tanah Arab sebelum dan sesudah Muhammad saw menjadi nabi. Hal ini bisa dilihat dari hadits-hadits yang mengharuskan penggunaan kapur barus untuk pengurusan jenazah. Kapur barus itu didapatkan dari Pulau Jawa, Indonesia karena di Mekah, Medinah, maupun Jeddah tidak memiliki wilayah yang bisa menghasilkan kapur barus. Di samping itu, di dalam Al Quran pun banyak ayat yang menerangkan tentang keadaan laut, pelayaran, para pelaut, dan hutan dengan segala keistimewaannya. Hal itu mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah berulang kali melakukan pelayaran dan keluar masuk hutan. Sangat mungkin pelayaran itu ke tanah Sunda dan hutannya pun hutan yang berada di wilayah Sunda.

            Memangnya di Mekah sebelah mana yang ada hutannya?

            Di Medinah atau Jeddah yang mana yang wilayahnya ada hutan?

            Dengan melihat dan mendengar berbagai kisah yang akrab antara tanah Arab dan tanah Sunda, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama Sunda Wiwitan sangat terbuka untuk disempurnakan oleh Agama Islam. Dengan tidak adanya keakraban antara tanah Sunda dengan tanah India, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama Hindu dan Agama Budha tidak pernah memberikan pengaruh apa pun bagi masyarakat Sunda.

            Sampurasun.

Thursday, February 9, 2017

Asal Mula Suku Baduy

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Masyarakat Baduy sebenarnya sangat tidak suka disebut “Baduy” karena kata Baduy berasal dari istilah orang-orang Belanda kolonial kepada mereka. Belanda menyebut mereka baduy karena menyamakan mereka dengan orang Arab “Badwi” yang tinggal di tenda-tenda dan hidup secara nomaden, berpindah-pindah tanpa tempat tinggal yang tetap. Sebutan itu sangat salah karena orang Baduy tidak tinggal di tenda-tenda dan tidak nomaden. Orang Baduy memiliki tempat tinggal yang tetap dan tanah yang juga tetap. Orang-orang ini sebenarnya lebih senang disebut sebagai orang “Kanekes” karena memang mereka adalah warga Kanekes.

           Dari zaman ke zaman sudah ratusan peneliti yang mencoba mencari tahu dari mana orang-orang Kanekes ini berasal dan bagaimana terbentuknya cara-cara hidup mereka yang sangat kuat memegang adat leluhur. Setiap ada peneliti yang mendapatkan kesimpulan tentang asal mula Baduy, orang-orang Kanekes ini selalu kesal, jengkel, dan marah karena menganggap bahwa hasil penelitian para peneliti itu salah dan selalu salah.

            Salah seorang dari mereka berkata keras, “Kami ti baheula ge geus aya di dieu. Ti jaman Nabi Adam ge kami mah geus di dieu!”

            Artinya, “Kami dari dulu juga sudah ada di sini. Sejak zaman Nabi Adam juga kami sudah berada di sini!”

            Hasil para peneliti itu, baik dari dalam maupun dari luar negeri selalu dibantah karena terkesan menyudutkan mereka, seperti menyebut mereka adalah berasal dari orang-orang Sunda yang kalah perang, lalu lari dan sembunyi di tempatnya sekarang dari kejaran musuhnya yang telah menghancurkan Kerajaan Sunda.

            Saya sendiri lebih percaya kepada kata-kata orang Baduy sendiri bahwa mereka sejak dulu juga sudah berada di tempat itu. Mereka memiliki nenek moyang sendiri yang diciptakan Allah swt sebagai Suku Sunda. Orang Sunda memiliki pasangan suami istri khusus yang melahirkan Suku Sunda. Di wilayah mereka ada lokasi yang ditandai batu yang merupakan tempat sepasang suami istri itu diciptakan Allah swt.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa memang Allah swt menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan karakteristik masing-masing serta kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional juga yang masing-masing. Manusia diciptakan berbeda secara fisik, mental, intelektual, emosional, dan spiritual. Hal  itu dimaksudkan Allah swt untuk saling mengenal sehingga dapat saling belajar, saling mengisi, dan saling membantu dalam menyempurnakan hidup dan kehidupan yang diciptakan Allah swt.

            Orang Jawa, Minang, Batak, Papua, dan seluruh suku bangsa di dunia ini memiliki leluhur masing-masing, memiliki sepasang suami istri masing-masing yang merupakan awal dari suku bangsa itu. Di wilayah setiap suku ada tempat yang merupakan lokasi bagi Allah swt dalam menciptakan pasangan awal suami istri yang melahirkan suku bangsa mereka. Dari pasangan awal itulah lahir suku bangsanya yang khas dengan segala karakteristiknya sesuai dengan kehendak Allah swt.


Bagaimana dengan Adam as?
Perdebatan dan diskusi mengenai Nabi Adam as adalah manusia pertama atau bukan, sudah terlalu sering dan berlarut-larut sampai hari ini. Saya sendiri sering terlibat diskusi dan perdebatan itu hingga berminggu-minggu. Hasilnya, selalu saja mereka yang berpendapat bahwa Adam as adalah manusia pertama tidak pernah bisa menjawab berbagai pertanyaan yang “menjungkirkan” keyakinan bahwa Adam as adalah manusia pertama.

            Saya sendiri berpendapat bahwa Nabi Adam as adalah BUKAN MANUSIA PERTAMA. Akan tetapi, Nabi Adam as adalah nabi pertama, manusia beradab pertama, dan manusia yang diberi wahyu pertama oleh Allah swt sehingga diangkat menjadi khalifah di muka Bumi.

            Nabi Adam as adalah laki-laki pertama dan Siti Hawa adalah perempuan pertama yang kemudian melahirkan suku bangsanya sendiri dengan karakteristiknya sendiri pula. Nabi Adam as bukan manusia pertama, melainkan nabi pertama dan manusia beradab pertama karena diberi wahyu yang berupa tuntunan dari Allah swt untuk mencapai kehidupan yang sempurna.

            Apalagi jika kita baca Ensiklopedia Islam yang menuliskan bahwa ada salah seorang anak dari Nabi Adam as yang bermasalah dengan sebuah kerajaan, bahkan sampai ditangkap oleh rajanya.

            Raja yang menangkap anak Nabi Adam as itu turunan dari mana kalau memang Adam as adalah manusia pertama?

            Adam as bukanlah manusia pertama.

            Kalau masih ngotot meyakini bahwa Adam as adalah manusia pertama, coba jawab pertanyaan saya ini.

            Ada berapa ratus bahasa yang ada di dunia ini?

            Nabi Adam as menggunakan bahasa apa ketika berkomunikasi?

            Mengapa manusia tiba-tiba memiliki bahasa masing-masing?

            Mengapa tidak menggunakan bahasa Nabi Adam as? Bukankah seluruh manusia adalah keturunan Adam as?

            Ada masalah apa antara Adam as dengan keturunannya sehingga saking bencinya sampai-sampai harus meninggalkan bahasa Adam as?

            Malah, bukan hanya bahasa yang berbeda, hurufnya pun berbeda. Ada huruf Sunda, Jawa, Arab, Jepang, Cina, Yunani, dan lain sebagainya.

            Siapa orangnya yang pertama kali membenci Adam as sehingga tidak sudi lagi menggunakan bahasa Adam as?

            Hayo jawab.

            Saya sangat berterima kasih jika ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

            Kalau tidak ada yang bisa menjawab, berarti memang Adam as bukanlah manusia pertama. Allah swt menciptakan kita berasal dari sepasang suami istri tertentu yang melahirkan sebuah suku bangsa tertentu dengan karakteristik masing-masing. Begitulah yang saya pahami dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            Allah swt menciptakan kita berbeda sesuai dengan karakteristik alam yang berbeda sehingga kita bisa saling mengenal, saling memberi, saling mengisi, dan saling membantu di antara sesama manusia. Bukan sebaliknya, saling ingin menguasai, saling ingin merampok, saling ingin menjatuhkan, saling ingin berada paling tinggi di atas yang lainnya, atau saling ingin berjaya dengan merendahkan manusia yang lainnya.

            Begitulah maksud Allah swt menciptakan kita berbeda-beda. Kita diciptakan berbeda, tetapi dengan maksud yang sama.

            Jadi, asal mula orang Baduy adalah berasal dari sepasang suami istri yang kemudian menjadi awal terbentuknya Suku Sunda dengan karakteristiknya yang khas, dengan mental tertentu, kecerdasan tertentu, kemampuan spiritual tertentu, serta tingkat emosi yang khusus pula. Lokasi penciptaan pasangan suami isteri pertama itu adalah di tempat yang ditunjukkan oleh orang Baduy sendiri. Bukan hanya Suku Sunda yang diciptakan seperti itu, melainkan semua suku di dunia ini pun diciptakan dengan cara seperti itu.


            Sampurasun